Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyebut rata-rata penyaluran Pertalite sebelum kenaikan harga berada di angka 75.795 kiloliter (KL) per hari. Setelah harga Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, penyaluran Pertalite pada tanggal itu tercatat 82.760 KL per hari.
Angka tersebut naik 9,19 persen, dengan selisih 6.965 KL per hari dibandingkan rata-rata sebelum perubahan harga. Data itu memperlihatkan bahwa pergeseran konsumsi bukan sekadar penjelasan atas kondisi stok saat ini; kenaikan penyaluran sudah terlihat setelah harga Pertamax berubah.
Catatan BPH Migas tentang kenaikan konsumsi pada Juli dan angka penyaluran pada 10 Juni mengukur periode yang berbeda. Keduanya sama-sama menunjukkan adanya peningkatan penggunaan Pertalite setelah harga BBM nonsubsidi naik, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan besaran stok nasional saat ini.
Jenis BBM lain disebut tidak bermasalah
Bahlil mengatakan kondisi stok yang menurun terbatas pada Pertalite. Ia menyebut Biosolar serta Pertamax RON 92, Pertamax Green RON 95, dan Pertamax Turbo RON 98 tidak mengalami persoalan pasokan menurut keterangan yang disampaikan.
“Untuk Biosolar, RON 92, RON 95, RON 98 itu nggak ada masalah, nggak ada masalah, yang terjadi pergeseran itu RON 90,” ujar Bahlil.
Perbedaan harga menjadi perhatian karena perubahan konsumsi terjadi pada produk bersubsidi, sementara pengisian kembali stok bergantung pada proses blending di kilang dan penyaluran. Pemerintah memperkirakan pemulihan menuju kisaran 20 hari berlangsung sekitar sepekan.
Perkembangan stok Pertalite dalam periode itu akan menunjukkan apakah produksi dan distribusi mampu mengikuti permintaan yang meningkat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.