Sabtu, 17 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Kadin Indonesia Perbarui Kemitraan dengan Senegal Demi Perkuat Investasi

Kemitraan Kadin Indonesia-Senegal untuk memperkuat investasi usaha
Kesepakatan Kadin Indonesia dan UNCCIAS memperbarui kerja sama investasi serta perdagangan. (Ilustrasi: AI)

TANGERANG SELATAN — Perlindungan bagi perusahaan Indonesia yang berinvestasi di Afrika Barat menjadi salah satu tujuan pembaruan kemitraan Kadin Indonesia dan Senegal.

Kesepakatan Kadin Indonesia dengan Persatuan Nasional Kamar Dagang, Industri, dan Pertanian Senegal (UNCCIAS) ditandatangani di Menara Kadin, Jakarta, Jumat, untuk memperkuat kerja sama investasi dan membantu pelaku usaha menghadapi persoalan di kawasan tersebut.

Ketua Komite Tetap Wilayah Afrika Kadin Indonesia, Mintardjo Halim, mengatakan perjanjian itu memperbarui sekaligus memperkuat kesepakatan yang telah ada. Cakupannya meliputi investasi, perdagangan, pengiriman barang, hingga perbankan.

“Jadi, kalau kami (pelaku usaha Indonesia) invest (berinvestasi) di sana, kami dilindungi,” ujar Mintardjo seusai menghadiri Pertemuan Bisnis dan B-to-B Networking Indonesia-Afrika Barat di Tangerang Selatan, Banten, Jumat siang.

Kemitraan Kadin Indonesia-Senegal untuk perlindungan usaha

Bagi perusahaan yang hendak masuk ke pasar Afrika Barat, mitra lokal dapat menjadi jalur untuk mencari bantuan ketika muncul kendala. Mintardjo menyebut UNCCIAS akan membantu pengusaha Indonesia menangani masalah melalui jaringan kamar dagang di Senegal.

“Jadi kalau ada apa-apa, ada masalah, kami bisa kontak sama minta tolong Kadin di sana (UNCCIAS) untuk membantu menangani masalah-masalah yang ada,” katanya.

Dukungan itu punya arti langsung bagi pelaku usaha. Investasi lintas negara tidak hanya bergantung pada peluang pasar; perusahaan juga perlu mengetahui ke mana harus meminta bantuan ketika kegiatan usaha menghadapi persoalan. Dalam kesepakatan baru ini, Kadin dan UNCCIAS memperluas ruang kerja sama hingga beberapa bidang operasional, termasuk pengiriman barang dan perbankan.

Kadin melihat peluang kolaborasi di pertanian, pengolahan makanan, manufaktur, barang kebutuhan konsumen, serta logistik. Bidang-bidang itu membuka ruang bagi perusahaan Indonesia untuk menjajaki kegiatan usaha dan produksi di kawasan Afrika Barat.

FTA dan PTA dinilai penting untuk perdagangan

Mintardjo menilai hubungan dagang belum didukung cukup banyak perjanjian bilateral antara Indonesia dan negara-negara Afrika Barat. Tanpa kesepakatan perdagangan, tarif masuk yang tinggi dan pembatasan perdagangan dapat menekan daya saing produk asal Afrika.

Ia mendorong pemerintah membahas pembentukan Perjanjian Perdagangan Preferensial (PTA) atau Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) dengan negara-negara di kawasan tersebut. Menurut dia, kesepakatan semacam itu diperlukan untuk menurunkan tarif dan hambatan perdagangan.

“Indonesia dan Afrika Barat perlu membicarakan mengenai perjanjian perdagangan preferensial, baik PTA maupun FTA, demi menurunkan tarif dan hambatan perdagangan agar perekonomian kita dapat tumbuh bersama. Jika tidak, perdagangan antara kedua pihak tidak akan berkembang secara optimal,” ucap Mintardjo.

Dorongan tersebut menempatkan kerja sama kamar dagang dalam konteks yang lebih luas. Kemitraan Kadin dengan UNCCIAS dapat membantu komunikasi bisnis dan penanganan masalah di Senegal, sedangkan pembahasan perjanjian dagang menyasar hambatan yang memengaruhi arus barang. Keduanya menyentuh kebutuhan berbeda dalam hubungan usaha Indonesia-Afrika Barat.

Senegal dilirik sebagai basis produksi lokal

Koordinator Fungsi Ekonomi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dakar, Alex Rudini Sulaiman, mengajak perusahaan Indonesia menjajaki investasi industrialisasi di Afrika Barat, terutama Senegal. Ia menilai produksi lokal berpeluang membantu menekan biaya produksi.

“Banyak potensi yang bisa dilakukan di sana, khususnya untuk masalah industrialisasi, bagaimana memproduksi secara lokal di Senegal sehingga bisa membantu menurunkan biaya produksi,” kata Alex.

Alex menyebut sejumlah perusahaan Indonesia telah menunjukkan minat untuk menanamkan modal di Senegal. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk sedang melakukan studi kelayakan. Sementara itu, PT Bakrie & Brothers Tbk telah berinvestasi di sektor perkebunan sawit di Guinea dan berencana memperluas kerja sama ke sektor pertambangan.

Minat perusahaan tersebut memberi gambaran bahwa pembicaraan bisnis mulai bergerak menuju penjajakan proyek. Namun, bahan yang disampaikan tidak merinci nilai investasi ataupun jadwal pelaksanaan rencana perusahaan. Alex berharap pertemuan bisnis menjadi langkah awal untuk membuka kerja sama yang lebih luas antara Indonesia dan Afrika.

“Jadi, kami berharap bahwa kegiatan ini adalah langkah awal yang nantinya akan membuka pintu kerja sama yang lebih luas lagi (antara Indonesia) dengan Afrika,” tutup Alex.

Untuk saat ini, satu rencana yang disebut secara spesifik adalah studi kelayakan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk di Senegal.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair