BANGKOK — Harga mobil listrik impor di Thailand berpeluang tertekan saat pemerintah menaikkan cukai pada 1 Januari 2027. Kebijakan itu menyasar kendaraan listrik yang dirakit sepenuhnya di luar negeri dan ditujukan untuk mendorong produsen membangun fasilitas produksi di Thailand.
Menteri Keuangan Thailand menyiapkan kenaikan dari tarif cukai yang saat ini ditetapkan 10 persen. Pemerintah juga merancang skema cukai bertingkat, dengan beban berbeda menurut lokasi produksi dan pemenuhan persyaratan kandungan lokal.
Pajak impor EV Thailand diarahkan ke produksi lokal
Perubahan ini menandai tahap berikutnya strategi kendaraan listrik Thailand. Pemerintah sebelumnya memperkenalkan paket EV 3.0, yang menggabungkan pemotongan cukai dengan subsidi langsung bagi pembeli, untuk merangsang pasar dan menarik produsen otomotif.
Menurut Sekretaris Permanen Keuangan Lavaron Sangsnit, strategi itu diluncurkan sekitar 4-5 tahun lalu. Pemerintah kemudian memperkenalkan paket EV 3.5, sebelum secara bertahap mengurangi insentif tersebut.
Dalam bahan kebijakan yang dikutip sumber, pemerintah telah membujuk delapan produsen otomotif China untuk membangun pabrik di Thailand. Setiap fasilitas dirancang memiliki kapasitas produksi tahunan sekitar 100.000 kendaraan. Produksi itu ditujukan untuk pasar domestik dan ekspor, termasuk ke Malaysia, Jepang, Inggris, dan Australia.
Bagi konsumen, perubahan tarif dapat menggeser daya saing mobil listrik impor dibandingkan kendaraan yang dibuat di Thailand. Namun, bahan sumber tidak menyebut besaran kenaikan harga atau tarif baru setelah perubahan berlaku. Dampak akhirnya terhadap harga jual akan bergantung pada kebijakan cukai dan keputusan produsen.
Tiga tingkat cukai dan syarat kandungan Thailand
Struktur cukai baru memiliki tiga tingkat. Tingkat 1 menerapkan tarif terendah bagi produsen yang memiliki fasilitas produksi di Thailand dan memenuhi persyaratan Made in Thailand. Tingkat 2 berlaku untuk perusahaan yang sudah memiliki fasilitas lokal, tetapi masih sangat mengandalkan komponen impor.
Tingkat 3 mengenakan pungutan tertinggi pada kendaraan impor utuh atau completely built-up (CBU) yang masuk ke Thailand tanpa fasilitas manufaktur lokal. Tarif cukai untuk kendaraan CBU impor saat ini tercatat 10 persen dan dijadwalkan naik mulai 1 Januari 2027.
Pemerintah juga ingin mengubah cara menghitung kandungan lokal. Berdasarkan kriteria Organisasi Perdagangan Dunia yang berlaku, kewajiban kandungan lokal sebesar 40 persen dinilai memiliki kelemahan karena perhitungan dapat memasukkan keuntungan, upah, serta biaya listrik dan air. Akibatnya, ukuran itu belum tentu menggambarkan penggunaan aktual suku cadang yang diproduksi di dalam negeri.
Thailand berencana memakai cukai sebagai instrumen utama dan memperkenalkan kriteria Made in Thailand yang baru, dengan penekanan lebih besar pada penggunaan komponen lokal. Pemerintah menyebut revisi aturan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat rantai pasok domestik sekaligus menjaga lingkungan investasi.
Tarif kendaraan juga mempertimbangkan emisi
Lavaron mengatakan pemerintah tidak akan menetapkan tarif cukai terpisah berdasarkan teknologi kendaraan, seperti mobil listrik baterai (BEV), kendaraan listrik jarak jauh, atau mobil hibrida. Otoritas akan menggunakan standar bersama yang terutama bertumpu pada emisi karbon dioksida.
Kendaraan dengan emisi CO2 lebih rendah akan memenuhi syarat untuk tarif cukai yang lebih rendah. Pendekatan itu, menurut Lavaron, juga mempertimbangkan cepatnya perubahan teknologi kendaraan.
Rencana ini muncul setelah sebagian produsen otomotif Jepang memilih tidak mengadopsi teknologi BEV dalam skema EV 3.0 dan EV 3.5. Mereka sebelumnya lebih berfokus pada kendaraan hibrida dan teknologi hidrogen, dengan alasan pasar BEV belum matang serta konsumen Thailand masih loyal pada merek yang telah mapan.
Lavaron membantah bahwa usulan kenaikan cukai impor merupakan konsesi kepada produsen Jepang yang kehilangan perang harga. Ia menyebut peta jalan itu telah disusun sejak awal, dengan tujuan menarik investasi, membangun rantai pasok domestik, dan melindungi iklim investasi.
Perubahan aturan juga dapat memengaruhi strategi produsen China. Sumber menyebut sebagian perusahaan dengan sumber daya keuangan terbatas menghadapi risiko ketika perang harga berlangsung. Pemerintah menyatakan persyaratan kandungan lokal dan perubahan cukai dirancang untuk menjaga investasi berkelanjutan di Thailand.
“Pemerintah tidak akan menetapkan tarif cukai terpisah berdasarkan teknologi kendaraan,” kata Lavaron Sangsnit, Sekretaris Permanen Keuangan Thailand, sebagaimana dikutip dalam bahan sumber.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.