Pengurangan pasokan gas pipa ke Singapura membuat hubungan kontrak dan sikap saling menghormati menjadi sorotan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia meminta negara lain menghargai langkah Indonesia dalam kerja sama, termasuk ekspor gas.
JAKARTA — Bahlil menyampaikan teguran itu dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/10/2026). Ia menegaskan pemerintah Indonesia berupaya mematuhi ketentuan kontrak, tetapi meminta mitra juga menghargai hubungan antarnegara dan tidak mengolok-olok Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan saat pemerintah mulai mengurangi ekspor gas pipa ke Singapura. Melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Indonesia memangkas pasokan sebesar 31 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) sejak Sabtu (24/10/2026).
Bahlil minta Singapura menghargai hubungan kerja sama
Dalam konferensi pers, Bahlil menekankan bahwa kepatuhan terhadap kontrak tidak seharusnya menjadi alasan bagi pihak lain untuk mengabaikan sikap saling menghormati. Ia menyebut pemerintah Indonesia menghargai aturan dan meminta hal yang sama dalam hubungan kerja sama.
“Pemerintah ndonesia sangat menghargai aturan, apalagi Menteri ESDM-nya, sangat menghargai aturan sekali. Tapi saya juga minta, jangan di saat bersamaan kalian minta dihargai, tapi susah untuk menghargai langkah kita, senang mengolok-olok negara lain, gimana itu?” kata Bahlil.
Kutipan yang disampaikan dalam bahan sumber menuliskan “ndonesia” pada awal kalimat. Bahlil juga menyebut dirinya memahami kontrak, sembari meminta pihak lain tidak mengajari Kementerian ESDM untuk menghargai perjanjian.
“Saya juga minta kepada pihak-pihak lain untuk saling menghargai, dan jangan ajari kami (ESDM) untuk menghargai kontrak. Saya paham betul tentang kontrak,” tegasnya.
Bagi hubungan pasokan gas, pesan itu menempatkan dua hal dalam satu pembahasan: pelaksanaan kontrak dan perlakuan antarpihak. Pengurangan pasokan yang disebutkan pemerintah menjadi perkembangan nyata bagi kerja sama energi Indonesia-Singapura, sedangkan seruan Bahlil menunjukkan bahwa pemerintah juga mengaitkan kerja sama dengan penghormatan terhadap langkah masing-masing negara.
Pesan kesetaraan dalam hubungan ASEAN
Bahlil turut mengingatkan pentingnya semangat kebersamaan di antara negara-negara anggota ASEAN. Menurut dia, sikap saling menghargai perlu dijaga dalam hubungan bilateral maupun regional, bukan hanya ketika membahas ketentuan kontrak.
“Jadi di sinilah azas kebersamaan, kita harus equal treatment, Indonesia itu terlalu baik. Menghargai kontrak, tapi hargai juga dong hubungan sesama negara-negara,” terang Bahlil.
Ia menghubungkan pesan itu dengan lambang ASEAN berupa ikatan rumpun padi berwarna kuning. Simbol tersebut, menurut penjelasan dalam bahan sumber, mencerminkan cita-cita pendiri ASEAN untuk membangun kawasan Asia Tenggara yang bersatu, makmur, dan sejahtera.
“Lambang ASEAN itu padi dan kapas diikat, itu artinya apa? Melambangkan kemakmuran bersama, penghargaan bersama, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” ujar Bahlil.
Pada konteks ekspor gas, pengurangan pasokan sebesar 31 juta kaki kubik standar per hari menjadi angka yang paling konkret bagi perkembangan kerja sama tersebut. Bagi industri dan pihak yang bergantung pada pasokan lintas negara, perubahan volume pasokan dapat menjadi perhatian langsung, sementara isi sumber tidak merinci dampak operasional atau perubahan kontrak setelah pengurangan itu.
Bahlil tidak menyatakan bahwa penghormatan dapat menggantikan kewajiban kontraktual. Ia justru menegaskan pemerintah memahami aturan, seraya meminta hubungan antarpihak diperlakukan setara. “Saya paham betul tentang kontrak,” tegasnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.