JAKARTA — Karhutla di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah masih tinggi, sehingga BMKG memperkuat pemadaman dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan dry ice. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan upaya itu di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (26/10/2026), seraya berharap hujan turun pada pekan ini.
BMKG mengerahkan sembilan pesawat di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, serta enam pesawat di Sumatera Selatan. Faisal menyebut operasi yang berlangsung saat ini sebagai salah satu OMC terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia.
BMKG kerahkan OMC untuk karhutla
Faisal mengatakan tim akan terus berupaya memadamkan kebakaran, terutama di Sumsel dan Kalteng yang masih mencatat tingkat kebakaran cukup tinggi. OMC dilakukan secara masif dan dipadukan dengan penggunaan dry ice, menurut keterangan yang disampaikan kepada awak media.
“Kami akan bekerja keras untuk memadamkan semaksimal mungkin kebakaran yang terjadi, khususnya di dua provinsi yang saat ini masih memiliki tingkat kebakaran cukup tinggi, yaitu Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah,” kata Faisal.
Jumlah pesawat yang dikerahkan menunjukkan besarnya operasi, tetapi sasaran akhirnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan peluang hujan. BMKG berharap pekan ini menjadi periode basah. Faisal menyebut hujan masih berupa potensi, bukan kepastian.
Data karhutla menunjukkan pekerjaan pemadaman masih besar
Gambaran tekanan kebakaran juga muncul dalam data BNPB yang dikutip Detik News. Per 23 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB, BNPB mencatat 19.708 titik panas secara nasional, dengan luas terbakar sekitar 41.554 hektare. Sekitar 26.681 hektare masih belum padam.
Kalimantan Tengah menjadi perhatian utama dalam catatan BNPB itu. Wilayah tersebut memiliki 13.297 titik panas dan luas terbakar 25.942 hektare, dengan sekitar 19.076 hektare masih belum padam. Di Sumatera Selatan, area yang dilaporkan belum padam sekitar 2.187 hektare.
Angka BNPB memberi konteks mengapa pengerahan pesawat dan upaya pemadaman terus digenjot. Kebakaran yang belum padam berarti pekerjaan tidak berhenti pada menjatuhkan hujan atau menekan api yang terlihat; tim juga perlu menangani area terdampak yang masih berisiko menyala kembali.
Dampaknya terasa bagi masyarakat sekitar melalui ancaman asap dan gangguan aktivitas, sementara operasi udara menargetkan dua provinsi yang disebut masih memiliki tingkat kebakaran tinggi.
Data tersebut berasal dari pemantauan BNPB pada tanggal dan waktu yang disebutkan, sedangkan penilaian BMKG mengenai kondisi terkini disampaikan Faisal pada Senin. Keduanya menunjukkan fokus yang sama pada Kalteng dan Sumsel, tetapi berasal dari lembaga dan waktu pelaporan berbeda.
Karena itu, angka BNPB menjadi potret pemantauan bertanggal, bukan pembaruan hitungan yang disampaikan BMKG dalam keterangan di Istana.
Situasi kebakaran berbeda antarwilayah
Laporan media pembanding juga menggambarkan kondisi yang tidak seragam. Travel Detik melaporkan kebakaran Gunung Sumbing telah padam di wilayah Wonosobo, Temanggung, dan Magelang, dengan total lahan terbakar 974 hektare menurut Administratur KPH Kedu Utara Dimyati. Laporan itu membahas lokasi berbeda dari dua provinsi yang menjadi fokus OMC BMKG.
Perbedaan wilayah penting dibaca dengan cermat: kabar padamnya api di Gunung Sumbing tidak berarti karhutla nasional telah terkendali. BNPB masih mencatat area yang belum padam, sementara BMKG menyebut Sumsel dan Kalteng tetap memerlukan perhatian pemadaman. Di Kalimantan Selatan, sembilan pesawat juga disebut aktif dalam operasi bersama di kawasan Kalimantan.
Faisal menegaskan bahwa pengerahan OMC akan berlanjut seiring upaya mengejar peluang hujan. “Harapannya, minggu ini menjadi periode basah sehingga ada potensi hujan,” katanya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.