Sebagai bagian dari komitmennya, Erzaldi juga mengumumkan rencana pelaksanaan pelatihan berpantun yang terbuka untuk umum pada 19 Oktober 2024.
Pelatihan ini akan diikuti oleh 150 peserta dan diselenggarakan secara gratis di Pendopo Rumah Erzaldi.
“Pelatihan untuk para pemantun gratis, semuanya bisa datang ke sini. Nanti kita siapkan semua. Insyaallah sekitar bulan Oktober,” jelas mantan Gubernur Babel periode 2017-2022 ini.
Tidak hanya itu, Erzaldi juga merencanakan pembentukan struktur kepengurusan resmi untuk Komunitas Pemantun Babel.
Dengan adanya struktur organisasi yang jelas, diharapkan komunitas ini dapat berjalan lebih terorganisir dan efektif dalam menjalankan berbagai program kerja.
“Waktu pelatihan nanti sekalian kita buat pengurus komunitas pemantun. Kalau sudah diresmikan nantinya, insyaallah baru kita buat aturan-aturannya,” tambahnya.
Harapan Besar untuk Kelestarian Budaya Melayu
Dukungan dan inisiatif yang ditunjukkan oleh Erzaldi Rosman Djohan ini mendapatkan apresiasi positif dari berbagai pihak, terutama para pelaku seni dan pecinta budaya di Bangka Belitung.
Mereka berharap langkah ini dapat menjadi awal yang baik untuk menghidupkan kembali dan mempromosikan seni berpantun sebagai identitas budaya Melayu yang kaya dan unik.
Salah satu anggota Sahabat Pemantun Bangka mengungkapkan rasa syukur dan antusiasmenya atas perhatian yang diberikan oleh Erzaldi.
“Kami sangat berterima kasih atas dukungan Pak Erzaldi. Dengan adanya pelatihan dan komunitas resmi, kami yakin seni berpantun di Babel akan semakin maju dan dikenal luas,” ujarnya dengan penuh harap.
Melalui berbagai upaya ini, diharapkan seni berpantun tidak hanya bertahan di tengah arus modernisasi, tetapi juga dapat berkembang dan beradaptasi sesuai dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai asli yang terkandung di dalamnya.
Erzaldi menegaskan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.
“Dengan adanya pelatihan hingga komunitas bagi para pemantun Babel ini, kita berharap adat budaya berpantun di Babel dapat terus terjaga, lebih maju, dan lebih hebat lagi hingga tak lekang oleh waktu,” tutup Erzaldi dengan penuh optimisme.
Pertemuan dan inisiatif ini menandai langkah awal yang signifikan dalam upaya pelestarian budaya Melayu di Bangka Belitung.
Diharapkan, dengan dukungan berkelanjutan dan kolaborasi yang solid antara pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat, seni berpantun akan terus menjadi kebanggaan dan identitas kuat bagi masyarakat Babel kini dan di masa mendatang. (Red/KBO Babel)
