Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Harga Minyak Tembus $92, Ini 3 Dampak Serangan AS ke Iran

Kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz yang strategis di tengah ketegangan geopolitik
Kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz yang strategis di tengah ketegangan geopolitik. (Ilustrasi: AI)

Bara konflik di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sepertiga pasokan minyak dunia, kembali menyala. Serangan terbaru Amerika Serikat ke fasilitas militer Iran di Bandar Abbas memicu lonjakan harga energi global yang mencapai rekor tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Ketegangan yang berulang di kawasan ini menunjukkan betapa rentannya arsitektur energi global terhadap konflik geopolitik.

Harga minyak mentah jenis Brent naik 8,7 persen dalam satu hari perdagangan, menembus level $92 per barel—tertinggi sejak Februari 2025. Kenaikan ini langsung memicu kekhawatiran inflasi di negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia. Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, mengeluarkan pernyataan langka yang memperingatkan dampak sistemik terhadap ekonomi global jika konflik terus meningkat.

Selat Hormuz yang lebarnya hanya 34 kilometer di titik tersempit menjadi titik krusial: setiap hari, 21 juta barel minyak mentah melintas di jalur ini menuju Asia, Eropa, dan Amerika. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini berpotensi mengguncang pasokan energi dunia dan memicu krisis ekonomi berkepanjangan.

Latar Belakang Ketegangan Selat Hormuz

Selat Hormuz telah menjadi arena konflik berulang antara Iran dan kekuatan Barat sejak revolusi Islam 1979. Kawasan ini bukan sekadar jalur pelayaran—ia adalah nadi ekonomi global. Iran, yang menguasai pantai utara selat, berkali kali mengancam akan menutup jalur ini sebagai respons terhadap sanksi ekonomi dan tekanan militer dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Konflik terbaru merupakan eskalasi dari ketegangan yang sudah berlangsung sejak awal 2025. Pada Mei lalu, Trump mengeluarkan ancaman kontroversial untuk “menyelesaikan pekerjaan” di Iran, yang diinterpretasikan sebagai ancaman serangan militer skala besar. Pernyataan itu memicu kemarahan Tehran dan memperburuk hubungan yang sudah tegang.

Serangan AS ke Bandar Abbas—pelabuhan militer penting Iran—dilakukan dengan dalih “pertahanan diri” setelah serangkaian insiden yang melibatkan drone dan kapal patroli Iran di perairan internasional. Namun, serangan ini terjadi justru di tengah perundingan damai informal antara kedua negara melalui mediasi Oman, membuat banyak pihak mempertanyakan timing dan motif Washington.

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda