Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Harga Minyak Tembus $92, Ini 3 Dampak Serangan AS ke Iran

Kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz yang strategis di tengah ketegangan geopolitik
Kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz yang strategis di tengah ketegangan geopolitik. (Ilustrasi: AI)

Konteks historis menunjukkan pola yang berulang: setiap kali terjadi serangan militer di kawasan ini, harga minyak melonjak tajam. Pada 2019, ketika Iran menembak jatuh drone AS dan menyita kapal tanker Inggris, harga minyak sempat naik 15 persen dalam seminggu. Pola yang sama kini terulang, dengan skala yang lebih besar.

Dampak Langsung terhadap Pasar Energi Global

Lonjakan harga minyak langsung berdampak pada pasar bahan bakar global. Di Amerika Serikat, harga bensin di pompa diprediksi akan menembus $6 per galon dalam dua minggu—level tertinggi dalam sejarah. Di Indonesia, Pertamina mengindikasikan kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi jika ketegangan berlanjut lebih dari sebulan.

Pasar saham energi merespons dengan volatile. Saham perusahaan minyak besar seperti ExxonMobil dan Chevron naik 12-15 persen, sementara saham maskapai penerbangan dan perusahaan logistik anjlok hingga 8 persen karena kekhawatiran kenaikan biaya operasional. Di Asia, bursa saham Tokyo, Seoul, dan Jakarta kompak melemah pada pembukaan perdagangan.

Federal Reserve dalam pernyataan resminya menyebut situasi ini sebagai “risiko sistemik yang signifikan.” Bank sentral AS meminta negara-negara anggota G20 untuk segera mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas fosil, serta mempercepat transisi ke energi terbarukan. Pernyataan ini menarik perhatian karena datang dari institusi yang biasanya sangat hati-hati dalam komentar politik.

Namun, permintaan Fed sulit direalisasikan dalam jangka pendek. Infrastruktur energi global masih sangat bergantung pada minyak—tidak hanya untuk transportasi, tetapi juga petrokimia, manufaktur, dan bahkan produksi pangan. Transisi energi membutuhkan investasi triliunan dolar dan waktu puluhan tahun.

Reaksi Regional dan Diplomasi Internasional

Iran merespons serangan AS dengan ancaman balasan yang lebih keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan AS sebagai “agresi imperialis” dan menjanjikan respons “di waktu dan tempat yang kami pilih.” Pasukan Garda Revolusi Iran—kekuatan militer elit—telah meningkatkan patroli di Selat Hormuz dan menempatkan rudal anti-kapal di pulau-pulau strategis.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua produsen minyak terbesar OPEC yang secara historis berseberangan dengan Iran, menyerukan de-eskalasi. Keduanya sangat sadar bahwa konflik terbuka di Selat Hormuz akan melumpuhkan ekspor minyak mereka sendiri. Riyadh bahkan menawarkan diri sebagai mediator, meskipun hubungannya dengan Tehran masih dingin.

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda