Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Rupiah Tembus Rp17.900, Kalah dari 10 Mata Uang Asia

Ilustrasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan mata uang Asia lainnya
Ilustrasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan mata uang Asia lainnya. (Ilustrasi: AI)

Kedua, aliran modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia tercatat meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Data transaksi menunjukkan investor asing melakukan net sell baik di pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN). Sentimen risk-off global yang dipicu ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global membuat investor lebih memilih aset safe-haven atau mengalihkan dana ke negara dengan yield dan prospek pertumbuhan yang lebih menarik.

Ketiga, kekhawatiran terhadap kinerja ekspor Indonesia di tengah perlambatan ekonomi China dan Eropa turut membebani outlook ekonomi. Harga komoditas ekspor utama seperti batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), dan nikel mengalami tekanan, yang berpotensi mengurangi surplus neraca perdagangan dan mempersempit ruang gerak otoritas untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa menguras cadangan devisa.

Dampak terhadap Ekonomi dan Kebijakan

Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS membawa implikasi luas terhadap berbagai sektor ekonomi. Bagi korporasi dengan utang denominasi dolar AS, beban pembayaran cicilan dan bunga akan meningkat signifikan, berpotensi menekan profitabilitas terutama bagi perusahaan yang pendapatannya dalam rupiah. Sektor manufaktur yang bergantung pada impor bahan baku dan komponen juga akan menghadapi kenaikan biaya produksi, yang pada akhirnya dapat ditransfer ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga.

Di sisi lain, pelemahan rupiah memberikan keuntungan kompetitif bagi eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar AS, karena nilai konversi ke rupiah menjadi lebih tinggi. Namun, manfaat ini terbatas jika permintaan global sedang lesu, sehingga peningkatan volume ekspor tidak terjadi secara signifikan.

Bank Indonesia dihadapkan pada pilihan kebijakan yang tidak mudah. Intervensi pasar melalui penjualan dolar dari cadangan devisa dapat menstabilkan rupiah dalam jangka pendek, tetapi berisiko menguras cadangan yang saat ini berada di sekitar USD139 miliar. Pilihan lainnya adalah menaikkan suku bunga acuan untuk menarik kembali aliran modal asing, namun hal ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik yang sedang dalam fase pemulihan pascapandemi.

Respons Otoritas dan Outlook

Bank Indonesia hingga saat ini menyatakan akan terus memonitor pergerakan nilai tukar dan siap melakukan stabilisasi sesuai kebutuhan. Gubernur BI dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas rupiah, dan volatilitas saat ini masih dalam batas yang dapat dikelola.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda