Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Rupiah Tembus Rp18.135 per Dolar AS, Terlemah Sejak 2020

Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp18.135 dengan grafik penurunan pasar
Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp18.135 dengan grafik penurunan pasar. (Ilustrasi: AI)

Rupiah Indonesia kembali merosot tajam dan mencatat pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Sejumlah bank domestik melaporkan kurs jual mencapai Rp18.135 per dolar AS pada perdagangan Kamis (28/5/2026), menandai level terlemah mata uang Garuda sejak puncak krisis pandemi Covid-19 pada 2020.

Pelemahan ini mengundang kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar, mengingat dampaknya yang luas terhadap stabilitas ekonomi nasional. Dari inflasi yang berpotensi melonjak hingga daya beli masyarakat yang tertekan, guncangan nilai tukar rupiah kali ini datang di tengah ketidakpastian ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.

Data dari money changer dan perbankan menunjukkan variasi kurs yang cukup signifikan, namun sejumlah bank besar sudah mencatatkan angka di atas Rp18.100 per dolar AS. Kondisi ini jauh melampaui prediksi sejumlah analis yang memperkirakan rupiah akan stabil di kisaran Rp16.500-Rp17.000 sepanjang semester pertama 2026.

Konteks Pelemahan dan Tekanan Eksternal

Pelemahan rupiah kali ini tidak terjadi secara terisolasi. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami tekanan serupa, meskipun tidak sedalam rupiah. Konteks global menunjukkan beberapa faktor kunci yang membebani mata uang emerging markets, termasuk Indonesia.

Kebijakan moneter The Federal Reserve AS yang masih mempertahankan suku bunga tinggi menjadi salah satu penyebab utama. Imbal hasil obligasi AS yang menarik mendorong investor global menarik dananya dari pasar berkembang dan kembali ke aset-aset safe haven denominasi dolar. Capital outflow dari pasar saham dan obligasi Indonesia tercatat meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Ketegangan geopolitik global yang belum mereda, terutama konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan Eropa Timur, turut memperkuat sentimen risk-off di pasar finansial. Investor cenderung melarikan modal ke aset-aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS dan emas, meninggalkan mata uang berisiko seperti rupiah.

Di sisi domestik, defisit transaksi berjalan Indonesia yang melebar menjadi concern tersendiri. Impor yang masih tinggi, terutama untuk kebutuhan energi dan bahan baku industri, tidak sepenuhnya diimbangi oleh kinerja ekspor yang stagnan. Harga komoditas global yang berfluktuasi, terutama CPO dan batubara yang menjadi andalan ekspor Indonesia, menambah tekanan pada neraca perdagangan.

Halaman:1234Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda