Senin, 20 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Ryamizard Ryacudu Meninggal: Profil Jenderal Kontroversial RI

Ryamizard Ryacudu
Foto: Ash Carter / Wikimedia Commons (Public domain)

Jenderal TNI (Purnawirawan) Ryamizard Ryacudu, mantan Menteri Pertahanan Republik Indonesia periode 2014-2019, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada hari ini. Kepergian perwira tinggi kelahiran Banda Aceh, 10 Agustus 1950 ini, menutup babak perjalanan karier militer selama lebih dari empat dekade—suatu narasi yang memadukan dedikasi kepada negara, pencapaian strategis, sekaligus sejumlah kontroversi yang mengiringi langkahnya dari medan operasi hingga kursi pimpinan pertahanan nasional.

Kabar duka ini menjadi perhatian publik mengingat posisi Ryamizard yang sentral dalam sejarah reformasi TNI pasca-1998, serta perannya dalam membentuk kebijakan pertahanan di era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sebagai prajurit yang mengabdi sejak 1973, Ryamizard menyaksikan dan terlibat langsung dalam berbagai momen krusial Indonesia—dari operasi militer di daerah konflik hingga transisi TNI menjadi institusi profesional di era demokrasi.

Dari Kopassus hingga Puncak Karier Militer

Ryamizard Ryacudu memulai pengabdian militernya setelah lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) pada 1973 dengan korps Infanteri. Kariernya menanjak pesat di lingkungan pasukan elit: ia tercatat pernah menjabat sebagai Komandan Grup 2 Kopassus (1993-1995), unit yang bertanggung jawab atas operasi-operasi khusus kontra-terorisme dan penyelamatan sandera. Pengalaman di Kopassus membentuk reputasinya sebagai perwira lapangan yang tegas dan berorientasi taktis.

Kepemimpinannya terus naik hingga mencapai jabatan strategis sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada periode 2002-2005, di masa transisi krusial pasca-reformasi. Saat itu, TNI sedang mengalami restrukturisasi besar: pemisahan dari Polri, penarikan dari politik praktis, dan pembangunan citra sebagai institusi profesional semata. Ryamizard memimpin TNI-AD dalam konteks tantangan separatisme di Aceh dan Papua, serta berbagai isu keamanan internal yang kompleks.

Perjalanan kariernya mencapai puncak ketika Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan pada Oktober 2014, menggantikan Purnomo Yusgiantoro di Kabinet Kerja. Penunjukan ini mengejutkan sebagian kalangan mengingat latar belakang Ryamizard yang dinilai keras dan kontroversial, namun di sisi lain menunjukkan kepercayaan pada pengalaman operasional dan pemahaman strategisnya terhadap ancaman keamanan nasional.

Halaman:123Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda