Senin, 20 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Slow Tourism, Melambat untuk Menemukan Pengalaman yang Lebih Bermakna

Slow Tourism, Melambat untuk Menemukan Pengalaman yang Lebih Bermakna
Ilustrasi travel essential yang harus masuk koper sebelum berangkat liburan. (dok. Blibli)

JAKARTA — slow tourism makin dilirik karena menawarkan liburan yang lebih tenang, lebih dalam, dan tidak lagi diukur dari banyaknya destinasi yang disapu dalam waktu singkat. Dalam bahan Liputan6.com, pergeseran ini dipotret sebagai perubahan cara wisatawan menikmati perjalanan: bukan sekadar berpindah lokasi, tapi benar-benar hadir di satu tempat.

Gaya liburan seperti ini menempatkan pengalaman sebagai pusat. Wisatawan memberi waktu untuk mencicipi kuliner khas, berbincang dengan warga lokal, berjalan santai menyusuri kota, atau tinggal lebih lama di satu destinasi agar bisa mengenal budaya setempat dengan lebih utuh.

Slow tourism dan perubahan cara orang memaknai liburan

Konsep slow tourism muncul dari kebiasaan baru yang mulai menjauh dari pola lama: mengejar daftar tempat sebanyak mungkin dalam satu perjalanan. Kini, banyak orang justru memilih pengalaman yang terasa berkesan ketimbang angka kunjungan yang banyak.

Dewan Pakar BA Center Bidang Pariwisata, Taufan Rahmadi, menilai pergeseran itu sebagai evolusi cara masyarakat memaknai perjalanan. Ia mengatakan, Saat ini orang bukan hanya ingin banyak-banyakan destinasi yang dikunjungi, tapi mencari pengalaman yang lebih bermakna, dalam pesan suara pada Lifestyle Liputan6.com, Rabu, 15 Juli 2026.

Pandangan itu penting karena menunjukkan bahwa wisata tidak lagi semata soal foto, daftar tempat, atau ritme jalan yang dikejar habis-habisan. Ada kebutuhan yang lebih besar di baliknya: rasa terhubung dengan tempat yang dikunjungi.

Dan itu tidak harus mahal. Tidak harus panjang. Tidak harus mewah.

Kenapa slow tourism relevan untuk wisatawan Indonesia

Taufan menegaskan, slow tourism tidak hanya bisa dinikmati wisatawan yang punya liburan panjang dan anggaran besar. Menurut dia, esensi konsep ini bukan pada lamanya perjalanan, melainkan pada kualitas pengalaman saat berada di destinasi.

Ia mencontohkan wisatawan yang hanya punya waktu dua hari di Yogyakarta. Dalam kerangka slow tourism, mereka tetap bisa menikmati satu atau dua tempat dengan lebih mendalam, mencicipi kuliner khas, menginap di homestay, atau mengikuti aktivitas budaya setempat. Hasilnya, perjalanan terasa lebih autentik tanpa harus mengeluarkan biaya besar atau menambah cuti.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda