JAKARTA — slow tourism makin dilirik karena menawarkan liburan yang lebih tenang, lebih dalam, dan tidak lagi diukur dari banyaknya destinasi yang disapu dalam waktu singkat. Dalam bahan Liputan6.com, pergeseran ini dipotret sebagai perubahan cara wisatawan menikmati perjalanan: bukan sekadar berpindah lokasi, tapi benar-benar hadir di satu tempat.
Gaya liburan seperti ini menempatkan pengalaman sebagai pusat. Wisatawan memberi waktu untuk mencicipi kuliner khas, berbincang dengan warga lokal, berjalan santai menyusuri kota, atau tinggal lebih lama di satu destinasi agar bisa mengenal budaya setempat dengan lebih utuh.
Slow tourism dan perubahan cara orang memaknai liburan
Konsep slow tourism muncul dari kebiasaan baru yang mulai menjauh dari pola lama: mengejar daftar tempat sebanyak mungkin dalam satu perjalanan. Kini, banyak orang justru memilih pengalaman yang terasa berkesan ketimbang angka kunjungan yang banyak.
Dewan Pakar BA Center Bidang Pariwisata, Taufan Rahmadi, menilai pergeseran itu sebagai evolusi cara masyarakat memaknai perjalanan. Ia mengatakan, Saat ini orang bukan hanya ingin banyak-banyakan destinasi yang dikunjungi, tapi mencari pengalaman yang lebih bermakna, dalam pesan suara pada Lifestyle Liputan6.com, Rabu, 15 Juli 2026.
Pandangan itu penting karena menunjukkan bahwa wisata tidak lagi semata soal foto, daftar tempat, atau ritme jalan yang dikejar habis-habisan. Ada kebutuhan yang lebih besar di baliknya: rasa terhubung dengan tempat yang dikunjungi.
Dan itu tidak harus mahal. Tidak harus panjang. Tidak harus mewah.
Kenapa slow tourism relevan untuk wisatawan Indonesia
Taufan menegaskan, slow tourism tidak hanya bisa dinikmati wisatawan yang punya liburan panjang dan anggaran besar. Menurut dia, esensi konsep ini bukan pada lamanya perjalanan, melainkan pada kualitas pengalaman saat berada di destinasi.
Ia mencontohkan wisatawan yang hanya punya waktu dua hari di Yogyakarta. Dalam kerangka slow tourism, mereka tetap bisa menikmati satu atau dua tempat dengan lebih mendalam, mencicipi kuliner khas, menginap di homestay, atau mengikuti aktivitas budaya setempat. Hasilnya, perjalanan terasa lebih autentik tanpa harus mengeluarkan biaya besar atau menambah cuti.
Bagi banyak orang di Indonesia, ini terasa dekat. Libur dua atau tiga hari sering jadi patokan utama. Karena itu, perencanaan yang realistis jadi kunci. Taufan menyarankan wisatawan memilih destinasi yang lokasinya tidak terlalu jauh agar waktu liburan lebih banyak dipakai menikmati tempat tujuan, bukan habis di perjalanan.
Ia juga mengingatkan agar agenda wisata tidak terlalu padat. Berjalan kaki, mencicipi kuliner khas, dan menikmati suasana sekitar justru membuat perjalanan lebih berkesan. Pesannya sederhana, tapi kena: kurangi dorongan untuk selalu mengejar konten media sosial.
Dampak slow tourism bagi destinasi, warga lokal, dan industri
Di sinilah sisi pentingnya untuk industri pariwisata. slow tourism bukan cuma soal kenyamanan wisatawan, tapi juga soal bagaimana destinasi menerima manfaat yang lebih merata. Saat arus kunjungan tidak menumpuk di satu titik dalam waktu bersamaan, tekanan akibat mass tourism ikut berkurang.
Manfaat ekonominya juga terasa lebih langsung. Wisatawan cenderung membelanjakan uang ke pelaku usaha lokal, seperti homestay, UMKM, dan pemandu wisata. Artinya, uang yang dibawa wisatawan berputar lebih dekat ke masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi.
Bagi daerah wisata, ini bisa menjadi jalan untuk memperkuat ekosistem kecil yang sering kali paling dulu terasa dampaknya ketika kunjungan meningkat.
Konsep ini juga sejalan dengan arah pembangunan pariwisata yang disebut Taufan sebagai quality tourism. Dalam bahan sumber, ia menilai prinsip slow tourism selaras dengan quality tourism yang saat ini menjadi arah pembangunan pariwisata Indonesia.
Prinsip itu, kata dia, menuntut wisatawan untuk lebih menghargai budaya lokal, memilih produk lokal, dan menjaga kelestarian alam. Bagi pelaku industri, pesan ini jelas: kualitas pengalaman dan keberlanjutan kini makin menentukan nilai sebuah destinasi.
Saya ingin kita mencoba sama-sama mengubah mindset kita saat berlibur. Orientasinya bukan berbicara seberapa banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi, tapi apa pengalaman yang saya dapatkan pada saat berwisata. Jadi pilih destinasi yang oke, respect the culture, menggunakan produk lokal, serta menjaga kelestarian alam, ujar Taufan.
Kalimat itu menutup arah baru yang ingin dibawa slow tourism: perjalanan yang lebih pelan, tapi meninggalkan kesan lebih lama. Dan justru di situlah daya tariknya sekarang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.