Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Slow Tourism, Melambat untuk Menemukan Pengalaman yang Lebih Bermakna

Slow Tourism, Melambat untuk Menemukan Pengalaman yang Lebih Bermakna
Ilustrasi travel essential yang harus masuk koper sebelum berangkat liburan. (dok. Blibli)

Bagi banyak orang di Indonesia, ini terasa dekat. Libur dua atau tiga hari sering jadi patokan utama. Karena itu, perencanaan yang realistis jadi kunci. Taufan menyarankan wisatawan memilih destinasi yang lokasinya tidak terlalu jauh agar waktu liburan lebih banyak dipakai menikmati tempat tujuan, bukan habis di perjalanan.

Ia juga mengingatkan agar agenda wisata tidak terlalu padat. Berjalan kaki, mencicipi kuliner khas, dan menikmati suasana sekitar justru membuat perjalanan lebih berkesan. Pesannya sederhana, tapi kena: kurangi dorongan untuk selalu mengejar konten media sosial.

Dampak slow tourism bagi destinasi, warga lokal, dan industri

Di sinilah sisi pentingnya untuk industri pariwisata. slow tourism bukan cuma soal kenyamanan wisatawan, tapi juga soal bagaimana destinasi menerima manfaat yang lebih merata. Saat arus kunjungan tidak menumpuk di satu titik dalam waktu bersamaan, tekanan akibat mass tourism ikut berkurang.

Manfaat ekonominya juga terasa lebih langsung. Wisatawan cenderung membelanjakan uang ke pelaku usaha lokal, seperti homestay, UMKM, dan pemandu wisata. Artinya, uang yang dibawa wisatawan berputar lebih dekat ke masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi.

Bagi daerah wisata, ini bisa menjadi jalan untuk memperkuat ekosistem kecil yang sering kali paling dulu terasa dampaknya ketika kunjungan meningkat.

Konsep ini juga sejalan dengan arah pembangunan pariwisata yang disebut Taufan sebagai quality tourism. Dalam bahan sumber, ia menilai prinsip slow tourism selaras dengan quality tourism yang saat ini menjadi arah pembangunan pariwisata Indonesia.

Prinsip itu, kata dia, menuntut wisatawan untuk lebih menghargai budaya lokal, memilih produk lokal, dan menjaga kelestarian alam. Bagi pelaku industri, pesan ini jelas: kualitas pengalaman dan keberlanjutan kini makin menentukan nilai sebuah destinasi.

Saya ingin kita mencoba sama-sama mengubah mindset kita saat berlibur. Orientasinya bukan berbicara seberapa banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi, tapi apa pengalaman yang saya dapatkan pada saat berwisata. Jadi pilih destinasi yang oke, respect the culture, menggunakan produk lokal, serta menjaga kelestarian alam, ujar Taufan.

Kalimat itu menutup arah baru yang ingin dibawa slow tourism: perjalanan yang lebih pelan, tapi meninggalkan kesan lebih lama. Dan justru di situlah daya tariknya sekarang.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda