Gunung Marapi di Sumatra Barat kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada Sabtu pagi, 30 Mei 2026. Erupsi yang terjadi pada pukul 08:42 WIB ini mengirim kolom abu vulkanik setinggi sekitar 2.000 meter di atas puncak gunung, mencapai ketinggian 4.891 meter di atas permukaan laut.
Ahmad Rifandi, petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi, melaporkan kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal yang condong ke arah timur laut. Aktivitas vulkanik ini terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 25 detik, menjadi satu-satunya gempa erupsi yang tercatat sepanjang hari tersebut.
Latar Belakang Aktivitas Gunung Marapi
Gunung Marapi, yang terletak di perbatasan Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Sejak erupsi besar pada akhir 2023, gunung ini terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang fluktuatif dengan erupsi periodik.
Erupsi terbaru ini terjadi dalam konteks monitoring berkelanjutan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, yang secara konsisten memantau perkembangan aktivitas gunung dan memberikan rekomendasi sesuai kondisi lapangan. Status gunung saat ini berada pada level II atau siaga, menandakan peningkatan aktivitas yang memerlukan kewaspadaan tinggi.
Pola erupsi Gunung Marapi menunjukkan karakteristik vulkanik yang dinamis, dengan periode tenang diselingi aktivitas eksplosif. Kawah Verbeek, yang menjadi pusat erupsi, telah menjadi fokus perhatian petugas pemantau sejak eskalasi aktivitas beberapa tahun terakhir.
Detail Erupsi dan Data Teknis
Erupsi yang berlangsung pada Sabtu pagi ini memiliki karakteristik teknis yang tercatat secara detail oleh peralatan monitoring PGA Marapi. Dengan amplitudo maksimum 30 milimeter, erupsi ini menunjukkan energi pelepasan yang cukup signifikan, meskipun durasinya relatif singkat pada 1 menit 25 detik.
Kolom abu yang mencapai ketinggian 4.891 meter di atas permukaan laut menunjukkan kekuatan erupsi yang mampu membawa material vulkanik ke atmosfer dengan tinggi sekitar 2.000 meter dari puncak gunung. Arah sebaran abu ke timur laut mengindikasikan pengaruh pola angin lokal pada saat kejadian, yang penting untuk prediksi area terdampak hujan abu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.