Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
HIBURAN

De Bruyne Terbongkar: Conte Paksa Saya Main di Posisi Salah

Kevin De Bruyne tampak frustasi di bangku cadangan Napoli musim 2025-26
Foto: Bryan Berlin / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Kevin De Bruyne, salah satu playmaker terbaik generasinya, baru saja mengakhiri musim perdana yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setelah satu dekade gemilang di Manchester City dengan enam gelar Liga Premier dan satu trofi Liga Champions, gelandang Belgia itu memilih tantangan baru di Napoli pada musim panas 2025 dengan status bebas transfer. Yang ia temukan di Stadio Diego Armando Maradona: sistem yang mengekang kreativitasnya, posisi yang tak familiar, dan hubungan tegang dengan manajer Antonio Conte yang berakhir dengan perpisahan di akhir musim.

Dalam wawancara terbuka dengan surat kabar Belgia Het Nieuwsblad, De Bruyne tidak menyembunyikan kelegaannya melihat Conte meninggalkan klub atas kesepakatan bersama setelah membawa Napoli finis di posisi kedua Serie A. Pemain berusia 34 tahun itu mengungkap ketidakcocokan filosofi sepak bola yang mendasar antara dirinya dengan pelatih asal Italia tersebut—sebuah konflik yang menghambat performanya sepanjang kampanye 2025-26.

Benturan Filosofi: Kreativitas Versus Disiplin Defensif

De Bruyne langsung mengidentifikasi akar masalahnya: perbedaan visi sepak bola yang terlalu jauh. “Tentu saja itu sulit bagi saya, karena Conte memiliki visi sepak bola yang sangat berbeda dengan saya; kita tidak perlu bertele-tele soal itu,” katanya dengan lugas. Sepanjang kariernya, De Bruyne dikenal sebagai orkestrator serangan yang membutuhkan kebebasan untuk mengeksplorasi ruang, memberikan umpan-umpan kunci, dan mendikte tempo permainan dari zona tengah yang lebih maju.

Conte, sebaliknya, membangun reputasinya sebagai pelatih yang menekankan organisasi defensif ketat dan disiplin taktis. Di Chelsea, ia memenangkan Liga Premier 2016-17 dengan formasi 3-4-3 yang kokoh. Di Inter Milan, ia merebut Scudetto 2020-21 dengan pendekatan pragmatis. Kini di Napoli, Conte menerapkan formasi 5-4-1 yang sangat defensif—sistem yang menurut De Bruyne membatasi ekspresi kreatifnya secara signifikan.

“Kami bermain sangat defensif. Jika Anda mencetak satu gol setiap pertandingan dalam formasi 5-4-1…. Itu tidak terlalu bagus,” ungkap De Bruyne. “Di awal musim, kami juga bermain sangat, sangat dalam. Pencetak gol terbanyak kami memiliki 10 gol, jadi ya, Anda tahu statistiknya tidak memadai.” Pernyataan ini menggarisbawahi frustrasinya terhadap pendekatan yang mengutamakan soliditas pertahanan dibanding produktivitas menyerang.

Halaman:123Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda