Di sebuah kampung di tepi Selat Melaka, Muar, Johor, Malaysia, budaya Jawa masih hidup dan lestari sejak lebih dari satu abad silam. Anggota dewan daerah Sungai Balang bernama Selamat Takim fasih berbahasa Jawa: “Iso ngomong jowo aku. Setunggal, kalih, tiga, sekawan, gangsal, sedoso.” Bukan sekadar kebetulan. Selamat adalah keturunan langsung Sultan Pakubuwono XI dari Solo, Jawa Tengah, yang leluhurnya berhijrah ke Muar pada abad ke-19 menyusul kolonialisme Belanda di tanah Jawa.
Migrasi massal orang Jawa ke kawasan Asia Tenggara pada abad ke-19 menciptakan jaringan komunitas diaspora yang bertahan lintas generasi. Di Kampung Sarang Buaya, Muar, jejak migrasi itu tidak sekadar menjadi catatan sejarah. Ia hidup dalam bahasa, tradisi pertanian, arsitektur, dan identitas budaya yang dipertahankan hingga kini. Selamat Takim dan puluhan ribu keturunan Jawa di Muar membuktikan bahwa ikatan serumpun Indonesia-Malaysia bukan hanya retorika politik, melainkan realitas sosial yang mengakar kuat.
Latar Belakang Migrasi Jawa ke Muar Sejak Abad ke-19
Menurut catatan historis yang berkembang di Kampung Sarang Buaya, Muar, migrasi orang Jawa ke wilayah Johor dimulai pada abad ke-17 menyusul gelombang perpindahan etnis Bugis dan Makassar dari Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis membentuk permukiman awal di pesisir Johor. Kemudian disusul oleh orang Jawa yang melarikan diri dari tekanan kolonial Belanda di tanah kelahirannya. Mereka menyeberang lautan dengan perahu, membawa keluarga, peralatan pertanian, dan benih padi.
Kampung Sarang Buaya dan area sekitarnya, termasuk Sungai Balang, menjadi tujuan utama para transmigran Jawa. Tanah di wilayah ini terbukti sangat subur. Menurut cerita rakyat setempat, butiran padi yang dibawa transmigran Jawa tanpa sengaja tumpah dari wadah dan segera bertunas. Kejadian itu meyakinkan warga lokal bahwa Kampung Sarang Buaya cocok untuk pertanian padi. Sawah Sarang Buaya dan Sawah Sungai Balang yang masih produktif hingga kini adalah warisan langsung dari migrasi itu.
Orang Jawa dan Bugis kemudian menikah dengan warga Melayu setempat. Perkawinan lintas etnis menciptakan komunitas hibrid yang kaya warisan budaya. Generasi demi generasi, keturunan mereka terus melestarikan bahasa, adat, dan tradisi leluhur dari tanah Jawa. Muar pun menjadi salah satu wilayah di Malaysia dengan konsentrasi keturunan Jawa tertinggi.
Selamat Takim dan Kebanggaan Warisan Pakubuwono XI
Selamat Takim, tokoh politik lokal yang kini menjabat sebagai anggota dewan daerah, mewakili generasi keturunan Jawa yang tidak melupakan akarnya. Dalam sapaan kehormatan Malaysia, ia disebut YB (Yang Berhormat). Namun ketika berbicara tentang identitas budaya, Selamat fasih menggunakan bahasa Jawa. Ia menyebut Indonesia dan Malaysia sebagai “sedulur” (saudara) dalam rumpun Melayu Nusantara.
“Kita ki sedulur. Wong serumpun. Jamane biyen kita satu rumpun. Iki dino kita pisah rong negoro kabehane merupakan nusantara yang terdiri dari masyarakat melayu yang bersatu menghormati, yang sama sama podo podo bayan biar negorone pada maju. Maju Indonesia, maju Malaysia, kita loro negoro jadi kuat ning Asia Tenggara. Hidup Indonesia, hidup Malaysia,” ujarnya dalam campuran Jawa-Melayu yang mengalir natural.
Kalimat Selamat menyiratkan identitas ganda yang tidak konflik: sebagai warga negara Malaysia yang setia, namun tetap bangga dengan warisan Jawa. Leluhurnya dari keraton Surakarta bukan sekadar silsilah aristokratik, melainkan simbol kontinuitas budaya yang dipertahankan secara sadar. Selamat adalah contoh nyata bagaimana diaspora Jawa di luar negeri berperan sebagai jembatan budaya dan diplomasi rakyat antara Indonesia dan Malaysia.
Keraton Mbah Anang: Arsitektur Jawa di Tanah Melayu
Tidak jauh dari Kampung Sarang Buaya, berdiri bangunan unik bernama Keraton Mbah Anang. Didirikan oleh Johar Paimin, warga Malaysia kelahiran Muar yang memiliki silsilah dari Mojokerto, Jawa Timur. Bangunan ini adalah replika keraton Jawa lengkap dengan gapura besar khas Mojokerto, arsitektur kayu tradisional, dan ornamen detail yang mengingatkan pada kompleks keraton di Jawa Tengah atau Jawa Timur.
Nama “Mbah Anang” sendiri adalah perpaduan linguistik Jawa dan Bugis. “Lanang” dalam bahasa Jawa berarti laki-laki, disesuaikan dengan dialek Bugis menjadi “Anang”. “Mbah” adalah sapaan hormat untuk orang tua dalam budaya Jawa. Secara keseluruhan, Mbah Anang bermakna “lelaki tua yang dihormati”. Nama itu merefleksikan identitas hibrid yang dimiliki banyak keturunan Jawa di Muar: mereka bukan sekadar Jawa, bukan sekadar Melayu, namun perpaduan harmonis keduanya.
Keraton Mbah Anang kini menjadi landmark budaya dan destinasi wisata warisan di Muar. Wisatawan lokal dan internasional datang untuk melihat bagaimana arsitektur Jawa bertahan dan dilestarikan di luar Indonesia. Bangunan ini juga menjadi pusat kegiatan budaya, termasuk pertunjukan kesenian Jawa seperti gamelan dan wayang kulit, yang diselenggarakan secara berkala oleh komunitas keturunan Jawa setempat.
Preservasi Budaya Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari
Keturunan Jawa di Kampung Sarang Buaya dan sekitarnya tidak hanya melestarikan bahasa. Mereka juga mempertahankan tradisi pertanian padi, memasak dengan bumbu dan resep Jawa, serta menggelar ritual adat seperti selamatan dan kenduri. Sawah Sarang Buaya masih diolah dengan sistem pengairan dan pola tanam yang mirip dengan sawah di pedesaan Jawa.
Banyak keluarga di Muar secara rutin mengunjungi Indonesia, terutama Solo dan Yogyakarta, untuk memperkuat ikatan dengan tanah leluhur. Anak-anak generasi muda didorong untuk belajar bahasa Jawa dan memahami sejarah migrasi keluarga mereka. Beberapa keluarga bahkan memiliki dokumentasi silsilah yang detail, menelusuri garis keturunan hingga generasi yang pertama kali tiba di Muar pada abad ke-19.
Tourism Malaysia menyadari potensi budaya ini. Dalam program Familiarisation Trip yang digelar pada 28–30 Mei, badan pariwisata Malaysia mengundang media internasional dan agen perjalanan dari Singapura untuk melihat langsung kehidupan komunitas Jawa di Kampung Sarang Buaya. Paket homestay berbasis budaya Jawa ditawarkan sebagai produk wisata warisan yang autentik dan edukatif.
Relevansi Diaspora Jawa bagi Hubungan Indonesia-Malaysia
Keberadaan komunitas keturunan Jawa di Muar memiliki implikasi lebih luas dari sekadar warisan budaya. Mereka adalah living bridge yang memperkuat hubungan people-to-people antara Indonesia dan Malaysia. Di tengah dinamika hubungan bilateral yang kadang diwarnai ketegangan atas isu perbatasan, budaya, atau tenaga kerja, komunitas diaspora Jawa mengingatkan bahwa ikatan historis dan kultural lebih kuat dari perbedaan politik.
Selamat Takim, dalam pernyataannya, menegaskan pentingnya solidaritas serumpun. “Kita loro negoro jadi kuat ning Asia Tenggara,” katanya. Pernyataan itu mengandung pesan geopolitik: Indonesia dan Malaysia yang bersatu dalam keragaman budaya dapat menjadi kekuatan regional yang signifikan. Diaspora Jawa seperti Selamat dan Johar Paimin adalah aset diplomasi budaya yang perlu dilibatkan dalam perumusan kebijakan luar negeri kedua negara.
Dari sudut pandang Indonesia, keberadaan jutaan keturunan Jawa di Malaysia, Singapura, Suriname, dan Kaledonia Baru adalah soft power yang belum dimaksimalkan. Program pertukaran budaya, beasiswa pendidikan, dan kolaborasi riset sejarah migrasi dapat memperkuat identitas diaspora sekaligus memperkuat citra Indonesia di mata dunia.
Di Kampung Sarang Buaya, Muar, Johor, budaya Jawa bukan kenangan masa lalu. Ia adalah identitas hidup yang terus bernapas, tumbuh, dan beradaptasi dalam konteks Malaysia modern. Keturunan Pakubuwono XI yang fasih berbahasa Jawa, sawah padi yang ditanam transmigran abad ke-19, dan keraton Mbah Anang adalah bukti konkret bahwa migrasi historis menciptakan warisan budaya lintas generasi yang tak lekang waktu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.