Minggu, 19 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Gunung Marapi Sumbar Erupsi, Kolom Abu 2.000 Meter ke Timur Laut

Erupsi Gunung Marapi Sumatera Barat dengan kolom abu vulkanik tinggi ke arah timur laut
Erupsi Gunung Marapi Sumatera Barat dengan kolom abu vulkanik tinggi ke arah timur laut. (Ilustrasi: AI)

Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali meletus pada Sabtu pagi, 30 Mei 2026, mengeluarkan kolom abu vulkanik setinggi 2.000 meter di atas puncak. Letusan yang terjadi pukul 08.42 WIB ini menjadi pengingat bahwa salah satu gunung api paling aktif di Indonesia tersebut masih dalam fase aktivitas tinggi yang memerlukan kewaspadaan berkelanjutan dari masyarakat sekitar.

Ahmad Rifandi, petugas Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Marapi, melaporkan kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar 4.891 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik berwarna kelabu dengan intensitas tebal terlihat condong ke arah timur laut, berpotensi memengaruhi wilayah-wilayah di jalur sebaran tersebut. Erupsi berlangsung relatif singkat namun intens, dengan durasi tercatat sekitar 1 menit 25 detik.

Detail Aktivitas Vulkanik Terkini

Data seismik yang tercatat di Pos Pemantau Gunung Api menunjukkan amplitudo maksimum mencapai 30 milimeter selama erupsi berlangsung. Parameter ini mengindikasikan kekuatan letusan yang cukup signifikan, meski masih dalam kategori erupsi freatik atau magmatik skala kecil hingga menengah yang umum terjadi di Gunung Marapi.

Sepanjang Sabtu, 30 Mei 2026, petugas mencatat hanya satu kali gempa letusan. Meski frekuensi letusan terbilang rendah pada hari tersebut, pola erupsi Gunung Marapi yang sering kali terjadi secara sporadis mengharuskan kewaspadaan tetap tinggi. Gunung dengan ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut ini memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik yang tidak selalu mengikuti pola reguler.

Konteks Historis dan Ancaman Lahar Dingin

Gunung Marapi tercatat sebagai salah satu gunung api paling aktif di Sumatera Barat dan Indonesia secara keseluruhan. Dengan lebih dari 50 kali letusan tercatat sejak abad ke-18, gunung ini memiliki periode aktivitas yang berulang dengan interval bervariasi. Erupsi terbesar dalam sejarah modern terjadi pada 1979, menewaskan puluhan pendaki dan penduduk lokal.

Dalam beberapa tahun terakhir, Gunung Marapi menunjukkan fase aktivitas meningkat, dengan beberapa erupsi kecil hingga menengah yang terjadi sejak 2024. Kejadian ini menempatkan wilayah Kabupaten Agam dan Tanah Datar, yang berbatasan langsung dengan kawasan gunung, dalam zona waspada berkelanjutan.

Salah satu ancaman utama pasca-erupsi adalah potensi lahar dingin. Material vulkanik yang terakumulasi di lereng gunung dapat terbawa aliran air hujan membentuk lahar yang mengalir cepat melalui sungai-sungai seperti Batang Agam, Batang Sangir, dan Batang Sinamar. Lahar dingin ini mampu merusak infrastruktur, mengubur lahan pertanian, dan membahayakan permukiman di daerah aliran sungai.

Imbauan dan Kesiapsiagaan Masyarakat

Otoritas pemantau gunung api meminta masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Marapi untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat musim hujan. Lahar dingin dapat terjadi tanpa peringatan langsung dan bergerak dengan kecepatan tinggi, memberikan waktu evakuasi yang sangat terbatas.

Warga diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan terlarang dalam radius tertentu dari puncak, serta menghindari daerah-daerah rawan banjir lahar. Jalur evakuasi dan posko siaga telah disiapkan di sejumlah titik strategis sebagai antisipasi jika terjadi eskalasi aktivitas vulkanik.

Pemerintah daerah Sumatera Barat bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Marapi secara 24 jam. Sistem peringatan dini berbasis seismik dan visual dioperasikan untuk mendeteksi tanda-tanda erupsi lebih lanjut sedini mungkin.

Dampak dan Implikasi Jangka Pendek

Erupsi Sabtu pagi ini belum dilaporkan menyebabkan korban jiwa atau kerusakan material signifikan. Namun, sebaran abu vulkanik ke arah timur laut berpotensi memengaruhi kualitas udara di wilayah tersebut, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Masyarakat di jalur sebaran abu diminta menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Sektor pertanian di lereng Gunung Marapi, yang didominasi tanaman sayuran dan hortikultura, juga berisiko terdampak jika hujan abu berlanjut. Meski abu vulkanik dalam jumlah kecil dapat menyuburkan tanah dalam jangka panjang, endapan abu tebal dapat merusak tanaman dan mengganggu proses fotosintesis.

Otoritas setempat terus mengimbau masyarakat untuk mengikuti perkembangan informasi resmi dari PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi antar-instansi menjadi kunci dalam meminimalkan risiko dari aktivitas vulkanik yang masih berlanjut di Gunung Marapi.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda