Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Rupiah Melemah Lagi: BCA hingga BNI Jual Dolar Rp18.100

Papan display kurs mata uang di bank Indonesia menampilkan nilai tukar dolar AS
(Ilustrasi: AI)

Faktor-Faktor Pendorong Pelemahan Rupiah

Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari dinamika ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian. Kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat yang masih hawkish menjaga daya tarik dolar AS sebagai safe haven currency, mendorong capital outflow dari emerging markets termasuk Indonesia.

Defisit transaksi berjalan Indonesia yang masih relatif tinggi menjadi faktor struktural yang membebani rupiah. Ketergantungan impor energi dan bahan baku industri membuat permintaan dolar tetap tinggi, sementara kinerja ekspor belum mampu sepenuhnya mengimbangi. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan supply-demand di pasar valuta asing domestik.

Sentimen geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan dinamika politik Amerika Serikat menjelang pemilu, turut mempengaruhi risk appetite investor. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen safe haven seperti dolar AS dan emas, menciptakan tekanan jual terhadap mata uang negara berkembang.

Di sisi domestik, ekspektasi inflasi yang masih berada di atas target Bank Indonesia juga membatasi ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga acuan. Diferensial suku bunga yang tidak cukup atraktif dibandingkan AS mengurangi insentif bagi investor asing untuk menempatkan dananya dalam instrumen rupiah.

Proyeksi dan Pandangan Ekonom

Sejumlah ekonom memprediksi rupiah berpotensi mengalami penguatan dalam waktu dekat, didorong oleh beberapa faktor fundamental. Normalisasi neraca perdagangan Indonesia pasca puncak impor untuk proyek infrastruktur diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa dan permintaan dolar.

Prospek penurunan suku bunga The Fed di semester kedua 2026, meskipun masih spekulatif, dapat mengubah aliran modal global. Jika terealisasi, emerging markets seperti Indonesia berpotensi kembali menarik modal asing, memberikan support terhadap rupiah. Namun timing dan besaran penurunan suku bunga masih sangat bergantung pada data inflasi AS yang belum menunjukkan tren penurunan konsisten.

Bank Indonesia diperkirakan akan tetap melanjutkan strategi triple intervention—intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward, dan pembelian surat berharga negara—untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Cadangan devisa Indonesia yang masih berada di level cukup memadai memberikan ruang bagi bank sentral untuk melakukan intervensi tanpa mengancam ketahanan eksternal.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda