Senin, 20 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Rupiah Melemah Lagi: BCA hingga BNI Jual Dolar Rp18.100

Papan display kurs mata uang di bank Indonesia menampilkan nilai tukar dolar AS
(Ilustrasi: AI)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menghadapi tekanan signifikan pada awal Juni 2026. Setelah sempat mengalami apresiasi tipis ke level Rp17.836 per dolar pada akhir Mei lalu, mata uang domestik kembali melemah dengan kurs jual di bank-bank besar Indonesia menembus level Rp18.100 pada perdagangan Senin, 1 Juni 2026.

Pemantauan terhadap empat bank terbesar—Bank Central Asia, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Negara Indonesia—menunjukkan kurs jual dolar AS berkisar antara Rp18.000 hingga Rp18.150. Pelemahan ini sejalan dengan tren yang terlihat di money changer Jakarta pekan lalu, di mana kurs sempat menyentuh Rp18.100, mencerminkan tekanan struktural terhadap rupiah yang belum sepenuhnya mereda.

Pola pelemahan-penguatan rupiah yang fluktuatif dalam sepekan terakhir mengindikasikan ketidakpastian pasar valuta asing domestik di tengah berbagai sentimen global dan regional. Meskipun Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas, tekanan eksternal tampaknya masih dominan mempengaruhi pergerakan nilai tukar.

Perbandingan Kurs di Empat Bank Besar

Disparitas kurs antar bank mencerminkan strategi pricing masing-masing institusi dalam merespons volatilitas pasar. Bank Central Asia, sebagai pemain terbesar di segmen retail banking, menetapkan kurs jual yang relatif kompetitif namun tetap mencerminkan premium risiko terhadap fluktuasi nilai tukar.

Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia, sebagai dua bank BUMN terbesar, umumnya menerapkan kurs yang lebih konservatif dengan spread lebih lebar antara kurs beli dan jual. Strategi ini bertujuan memberikan buffer terhadap volatilitas sekaligus menjaga likuiditas valuta asing untuk kebutuhan nasabah korporasi yang mendominasi transaksi valas di kedua bank tersebut.

Bank Negara Indonesia, dengan fokus kuat pada pembiayaan perdagangan internasional, cenderung menyesuaikan kursnya dengan dinamika ekspor-impor. Perbedaan kurs antar bank ini memberikan ruang arbitrase bagi nasabah yang membutuhkan transaksi valas dalam volume besar, meskipun untuk retail konsumen perbedaannya relatif kecil.

Fenomena ini berbeda dengan kondisi di money changer yang sempat mencatatkan kurs hingga Rp18.100 pekan lalu. Pasar money changer retail biasanya memiliki spread lebih lebar karena volume transaksi lebih kecil dan biaya operasional lebih tinggi, sehingga kurs jualnya cenderung lebih tinggi dibandingkan perbankan.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda