JAKARTA — FIFA menyatakan tidak menemukan bukti pelanggaran kode etik terhadap wasit video Australia Shaun Evans yang dituduh membuat gestur tangan menyerupai simbol supremasi kulit putih selama pertandingan Piala Dunia 2022. Komite Disiplin independen FIFA mengonfirmasi keputusan itu setelah menjalani penyelidikan menyeluruh terhadap insiden yang terekam dalam siaran langsung pertandingan pembukaan turnamen.
Komite Disiplin independen FIFA dalam pernyataan tertulis kepada Al Jazeera pada Senin (21 November 2022) mengonfirmasi bahwa lembaga sepak bola global tersebut “tidak menemukan bukti pelanggaran Kode Disiplin FIFA”. Keputusan ini menyudahi spekulasi yang sempat bergejolak di media sosial dan panggilan dari monitor diskriminasi FIFA agar Evans dihapus dari tugas.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Insiden Saat Siaran Pertandingan Pembukaan
Insiden terjadi saat siaran resmi pertandingan pembukaan Jerman melawan Curacao pada Minggu (20 November 2022). Ketika produser siaran menampilkan tim analis review video dari ruang kontrol di Dallas, Evans membuat simbol “OK” dengan tangan kanannya—ibu jari dan jari telunjuk membentuk lingkaran di depan kakinya, sementara tiga jari lainnya terangkat.
Meskipun pertandingan dimainkan di Houston, para pejabat video bekerja di pusat siaran Piala Dunia di Dallas, ratusan kilometer dari stadion. Gestur itu terekam langsung dalam siaran internasional dan segera menjadi viral di platform media sosial dalam hitungan menit. Pengamat online menghubungkan gerakan itu dengan simbol yang diklaim sebagai representasi ideologi supremasi ras tertentu—meskipun simbol “OK” tradisionalnya hanya berarti setuju atau baik-baik saja.
Monitor diskriminasi FIFA, yang ditugaskan khusus untuk mengawasi turnamen, segera mengeluarkan laporan resmi meminta penyelidikan. Lembaga itu merekomendasikan Evans dihapus dari daftar wasit VAR untuk sisa turnamen sampai masalah ini diselesaikan.
Penjelasan Evans: Gerakan Involunter, Bukan Simbol Bermakna
Evans, 35 tahun, merespons tuduhan dengan pernyataan yang dikirim kepada FIFA dan media. Dia menekankan bahwa gestur tangan tersebut tidak disengaja dan bukan dimaksudkan untuk “mengkomunikasikan pesan, afiliasi, permainan, atau kepercayaan apapun”.
“Satu-satunya penjelasan yang dapat saya tawarkan adalah bahwa gerakan tersebut merupakan kedutan tak sadar dan subkonscious. Saya tidak menyadari telah melakukannya saat itu,” tulis Evans dalam pernyataan formal yang disampaikan melalui asosiasi wasit internasional.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.