Selasa, 25 Agustus 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Terbongkar Strategi SBY Selamatkan RI dari Krisis 2008

Suasana rapat kabinet pemerintahan Indonesia membahas strategi ekonomi menghadapi krisis global
Terbongkar Strategi SBY Selamatkan RI dari Krisis 2008

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter menurunkan suku bunga acuan secara bertahap untuk mendorong likuiditas dan kredit perbankan. Kebijakan ini bertujuan menjaga agar sektor riil tetap mendapat akses pembiayaan. Selain itu, BI juga melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang tertekan akibat capital outflow.

Salah satu aspek penting dari strategi SBY adalah penguatan sektor domestik sebagai basis kekuatan ekonomi. Konsumsi domestik yang kuat, ditopang oleh kelas menengah yang tumbuh pesat, menjadi penyangga utama ketika sektor eksternal melemah. Strategi ini membuktikan pentingnya tidak terlalu bergantung pada permintaan eksternal.

Sektor perbankan Indonesia pada saat itu juga relatif lebih sehat dibanding negara-negara lain. Pengalaman krisis Asia 1997-1998 membuat regulator perbankan Indonesia lebih berhati-hati. Rasio kecukupan modal (CAR) bank-bank di Indonesia berada di level aman, dan eksposur ke produk-produk derivatif beracun yang memicu krisis di AS sangat minimal.

Peringatan SBY dan Kondisi Ekonomi Global Saat Ini

Dalam pernyataannya yang kembali viral, SBY mengingatkan bahwa kondisi ekonomi global saat ini sedang tidak baik-baik saja. Peringatan ini muncul di tengah berbagai ketidakpastian: perang dagang yang belum sepenuhnya reda, ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, inflasi yang masih tinggi di negara-negara maju, serta normalisasi kebijakan moneter yang agresif.

Akademisi dari Perbanas menambahkan bahwa siklus krisis ekonomi global kini bergerak lebih cepat dibanding masa lalu. Integrasi ekonomi digital, kecepatan aliran modal lintas negara, dan interconnectedness sistem keuangan global membuat shock ekonomi di satu negara bisa langsung berdampak ke negara lain dalam hitungan hari, bahkan jam.

Beberapa indikator yang mengkhawatirkan antara lain: resesi di beberapa ekonomi besar, tekanan pada sektor properti di China, ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada harga energi, serta kebijakan suku bunga tinggi yang berkepanjangan di AS dan Eropa. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan lingkungan ekonomi global yang penuh risiko.

Indonesia sendiri tidak kebal dari dampak kondisi global ini. IHSG mengalami volatilitas tinggi, nilai tukar rupiah mengalami tekanan, dan aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia menunjukkan pola yang tidak stabil. Meski demikian, fundamental ekonomi domestik dinilai masih solid dengan pertumbuhan yang relatif terjaga.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 25 Agustus 2026: Cara Cek NIK KTP Online