Selasa, 4 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Dolar AS Tembus Rp18.000, Pemerintah: Fundamental RI Tetap Kuat

Uang rupiah dan dolar AS dengan grafik nilai tukar menunjukkan pelemahan mata uang
Dolar AS Tembus Rp18.000, Pemerintah. (Ilustrasi: AI)

Merespons pelemahan tajam rupiah, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan dan otoritas ekonomi terkait mengeluarkan pernyataan yang menekankan soliditas fundamental ekonomi domestik. Pejabat pemerintah menegaskan bahwa meskipun nilai tukar mengalami tekanan, indikator-indikator ekonomi makro utama Indonesia tetap menunjukkan performa yang sehat.

Pemerintah menyoroti beberapa faktor pendukung kekuatan fundamental ekonomi, termasuk cadangan devisa yang masih berada di level yang memadai—tercatat sekitar 140 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026. Angka ini dinilai cukup untuk menjaga stabilitas eksternal dan membiayai sekitar 6,3 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, inflasi yang terkendali di kisaran target Bank Indonesia, serta sektor perbankan yang solid menjadi poin-poin yang ditekankan dalam pernyataan resmi.

Namun, pemerintah juga mengakui bahwa kondisi global yang tidak pasti memerlukan kewaspadaan tinggi dan respons kebijakan yang terkoordinasi. Kepercayaan investor baik domestik maupun asing menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah volatilitas pasar global yang tinggi.

Seruan Sinergi Fiskal-Moneter untuk Stabilisasi Rupiah

Salah satu poin krusial dalam respons pemerintah adalah penekanan pada pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. Menteri ekonomi dan pejabat terkait menyerukan koordinasi yang lebih erat antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk mengatasi tekanan terhadap rupiah secara lebih efektif.

Dari sisi fiskal, pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal dengan mengontrol defisit anggaran dan memastikan belanja negara difokuskan pada program-program produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing ekspor dan mengurangi ketergantungan impor juga menjadi agenda prioritas, termasuk percepatan hilirisasi industri dan pengembangan sektor manufaktur bernilai tambah tinggi.

Di sisi moneter, Bank Indonesia diharapkan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar, baik melalui intervensi spot maupun operasi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Kebijakan suku bunga acuan BI Rate yang tetap kompetitif juga dinilai penting untuk menarik arus modal masuk dan menahan tekanan terhadap rupiah, meski harus tetap mempertimbangkan target inflasi dan kondisi ekonomi domestik.

Said Abdullah, salah satu ekonom senior yang dikutip dalam pemberitaan media, turut mendorong pentingnya sinergi fiskal-moneter ini. Menurutnya, koordinasi kebijakan yang solid akan memberikan sinyal positif kepada pasar bahwa otoritas mampu mengelola tantangan eksternal dengan baik, sehingga dapat mengurangi tekanan spekulatif terhadap mata uang domestik.

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Ekonomi dan Masyarakat

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda