Jumat, 7 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Portofolio Saham Merah Semua, Ini Panduan Investor Hadapi Koreksi

Layar bursa saham Indonesia menampilkan grafik merah penurunan IHSG dan harga saham
Portofolio Saham Merah Semua, Ini Panduan Investor Hadapi Koreksi. (Ilustrasi: AI)

Pertama, evaluasi ulang fundamental masing-masing saham dalam portofolio. Bedakan antara saham yang fundamentalnya masih solid namun terdampak sentimen negatif pasar dengan saham yang memang mengalami deteriorasi kinerja bisnis. Untuk kategori pertama, strategi hold atau bahkan averaging down bisa dipertimbangkan jika memiliki dana idle dan horizon investasi jangka panjang.

Kedua, manajemen risiko melalui diversifikasi tetap krusial. Jika portofolio masih terlalu terkonsentrasi di satu atau dua sektor yang paling terpukul, pertimbangkan untuk melakukan rebalancing bertahap ke sektor defensif seperti consumer goods, healthcare, atau utilities yang historis lebih stabil saat volatilitas tinggi.

Ketiga, untuk investor dengan profil risiko konservatif dan horizon investasi pendek, cut loss dengan disiplin pada level yang telah ditentukan sebelumnya tetap merupakan pilihan rasional. Kerugian yang terealisasi hari ini bisa mencegah kerugian yang lebih besar jika koreksi berlanjut lebih dalam.

Keempat, manfaatkan momen koreksi untuk belajar dan memperbaiki strategi. Tinjau kembali apakah alokasi aset sudah sesuai profil risiko, apakah diversifikasi sudah memadai, dan apakah ada kesalahan dalam stock selection atau market timing yang bisa diperbaiki di masa depan.

Perspektif Jangka Panjang: Koreksi sebagai Peluang

Dalam sejarah pasar modal Indonesia, koreksi tajam kerap menjadi entry point terbaik bagi investor jangka panjang. Warren Buffett pernah mengatakan, “Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.” Prinsip ini relevan dalam konteks saat ini.

Ketika 623 saham berdarah merah dan sentimen pasar sangat negatif, valuasi banyak emiten berkualitas bisa turun ke level yang menarik secara fundamental. Price-to-earnings ratio (PER) yang terkompresi, price-to-book value (PBV) di bawah historical average, dan dividend yield yang meningkat adalah indikator bahwa pasar mungkin sudah oversold.

Investor yang memiliki dana segar dan mental yang kuat bisa memanfaatkan situasi ini untuk membangun posisi secara bertahap di saham-saham blue chip atau fundamental kuat yang harganya tertekan. Strategi dollar cost averaging—membeli secara berkala dengan jumlah nominal tetap—bisa menjadi pendekatan yang efektif untuk mengurangi risiko market timing.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda