JAKARTA, JOURNALARTA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Selasa 22 September 2026, ditutup anjlok tajam 1,69% atau merosot 107,68 poin, berakhir di level 6.277,04 pada pukul 16.00 WIB. Pelemahan signifikan ini terjadi setelah indeks sempat dibuka menguat di awal sesi perdagangan.
Padahal, pagi tadi IHSG sempat dibuka optimistis pada level 6.392,34, naik dari penutupan sebelumnya di 6.384,73. Indeks bahkan menyentuh level tertinggi intraday 6.423,84 sebelum akhirnya berbalik arah. Level terendah harian tercatat di 6.258,44.
Data perdagangan menunjukkan volatilitas yang tinggi sepanjang hari. Di sesi I, IHSG sudah terperosok 84,62 poin (-1,33%) ke 6.300,11 pada pukul 10.45 WIB. Kala itu, 556 saham melemah, 148 menguat, dan 259 stagnan.
Nilai transaksi perdagangan hari ini mencapai Rp14,39 triliun dengan volume 32,19 miliar saham. Di sesi I saja, nilai transaksi tembus Rp7,98 triliun dengan volume 20,63 miliar saham.
Deretan Pemicu Utama Anjloknya IHSG
Pelemahan IHSG hari ini dipengaruhi oleh setidaknya tiga sentimen utama yang membebani pasar.
Pertama, tekanan datang dari depresiasi rupiah. Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,77% terhadap dolar AS, menyentuh Rp17.872,9 per USD. Investor juga berada dalam mode wait and see menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 22-23 September 2026. Meskipun pasar memprediksi BI Rate akan tetap di 5,75%, forward guidance Bank Indonesia terkait rupiah menjadi kunci perhatian pelaku pasar.
Kedua, adanya risiko outflow dana asing. Analis Pilarmas Sekuritas menyoroti keputusan FTSE Russell yang menaikkan status Vietnam dari frontier market menjadi emerging market (secondary emerging). Perubahan status ini berpotensi meningkatkan persaingan untuk mendapatkan dana dari manajer investasi global, sehingga menciptakan risiko arus keluar modal dari Indonesia.
Ketiga, kinerja saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) yang menjadi pemberat utama indeks. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi penekan terbesar dengan kontribusi negatif 14,6 poin. Disusul oleh PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang memangkas 7,74 poin, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) -2,98 poin, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) -2,77 poin, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) -2,45 poin, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) -2,21 poin, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) -2,21 poin, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) -1,98 poin.
Sektor dan Saham Pemberat IHSG
Hampir seluruh sektor mengalami koreksi. Sektor energi mencatatkan pelemahan terdalam sebesar -1,99%, diikuti utilitas -1,77%, properti -1,72%, konsumer non-primer -1,52%, bahan baku -1,33%, dan industri -1,18%.
Di tengah tekanan jual yang masif, beberapa saham justru mampu menjadi penahan dan bahkan membukukan kenaikan signifikan. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang +2,11 poin, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) +0,38 poin, dan PT Indosat Tbk (ISAT) +0,36 poin. Beberapa saham lain bahkan sempat melonjak hingga 34% menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) di sesi I.
IHSG Anomali di Tengah Bursa Asia Menguat
Pelemahan IHSG ini menjadi anomali negatif dibandingkan bursa-bursa utama Asia lainnya. Pada hari yang sama, bursa Shanghai menguat 0,15%, Hang Seng naik 0,29%, dan Straits Times melonjak 0,52%. Sementara itu, bursa Nikkei libur. Situasi ini menunjukkan sentimen negatif yang lebih kuat terhadap pasar modal domestik.
Pilarmas Sekuritas memperkirakan ruang intervensi rupiah oleh Bank Indonesia terbatas. Jika hasil RDG BI tidak memberikan sinyal kebijakan yang hawkish, tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia, termasuk IHSG dan rupiah, berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.