JAKARTA, JOURNALARTA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin, 21 September 2026, ditutup melemah. Data real-time pukul 11.59 WIB menunjukkan IHSG berada di level 6.423,51, terkoreksi 17,65 poin atau 0,27%.
Pelemahan ini terjadi setelah IHSG sempat bergerak volatil di awal perdagangan. IHSG sempat dibuka menguat tipis 0,09% ke 6.446,90, namun tak mampu bertahan. Bahkan, indeks sempat anjlok ke level terendah harian di 6.388,25 sekitar pukul 10.00 WIB, sebelum kemudian mencoba rebound perlahan.
Kronologi Pergerakan IHSG
Pembukaan perdagangan pagi hari Senin menunjukkan IHSG di 6.446,90, lebih tinggi dari penutupan sebelumnya di 6.441,16. Namun, lonjakan ini tidak bertahan lama. Dalam kurun waktu kurang dari satu jam setelah pembukaan, IHSG merosot tajam, menyentuh titik terendah 6.388,25.
Pukul 09.20 WIB, IHSG berada di 6.424,87, turun 16,29 poin atau 0,25%. Sepuluh menit kemudian, pada 09.30 WIB, pelemahan semakin dalam menjadi 6.411,58 atau terkoreksi 29,57 poin (0,46%). Meskipun sempat mengalami V-shape recovery menuju 6.423,51 pada 11.59 WIB, indeks tetap berada di zona merah.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen negatif lebih dominan dibanding optimisme awal.
Penyebab Pelemahan IHSG Hari Ini
Beberapa faktor disinyalir menjadi pemicu koreksi IHSG pada hari ini:
- Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Setelah beberapa kali gagal menembus level resistance psikologis 6.700, investor mengambil keuntungan. Founder WH Project, William Hartanto, menilai IHSG berpotensi koreksi sebentar, sebagai bentuk profit taking. Ini terjadi karena level 6.600 yang sebelumnya disebut aman, kini sudah dilewati.
- Sentimen Global Negatif: Pelemahan IHSG sejalan dengan bursa global. Wall Street, termasuk Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq, ditutup melemah semalam. Bursa Asia seperti Hang Seng, Kospi, dan Straits Times Singapura juga bergerak di zona merah. Kospi bahkan mencatat penurunan terburuk dalam 19 bulan, terkoreksi 7,24%.
- Kenaikan Harga Minyak Brent: Harga minyak Brent menembus US$100 per barel. Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran akan inflasi global, khususnya inflasi AS yang berpotensi melampaui target 2% Federal Reserve. Kondisi ini membayangi pasar dengan potensi perang dagang jilid kedua.
- Menanti Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI: Investor domestik cenderung menahan diri menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan digelar pada 22-23 September 2026. Hasil RDG mengenai arah suku bunga dan kebijakan moneter lainnya sangat ditunggu, terutama dampaknya terhadap nilai tukar rupiah yang saat ini cenderung melemah.
- Penjualan Saham Kapitalisasi Besar: Sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar (big cap) menjadi pemberat. Contohnya adalah saham DSSA, MORA, BREN, dan BBCA. Selain itu, saham AMMN turun 1,43% (-2,96 poin) dan TLKM melemah 1,13% (-2,78 poin). Sektor energi juga turut tertekan, dengan IDX Energy turun 0,23% ke 3.255,54 poin, diiringi penurunan pada Adaro Andalan (-3,34%), Bayan Resources (-3,25%), dan Bukit Asam (-1,29%).
Analisa Teknikal: Level Krusial 6.400
Secara teknikal, level 6.400 menjadi sangat krusial. Phintraco Sekuritas memproyeksikan rentang pergerakan IHSG berada di 6.400-6.550. Jika level 6.400 gagal dipertahankan, IHSG berpotensi meluncur ke rentang 6.300-6.350.
Support terdekat IHSG berada pada 6.431-6.419, diikuti oleh 6.377-6.370 dan 6.390. Sementara itu, level resistance terdekat ada di 6.452, kemudian 6.477, dan 6.541-6.564 (Bollinger tengah & MA).
Analisa FXStreet menunjukkan bahwa IHSG berada di bawah Bollinger tengah 6.541 dan MA 6.564, mendekati support 6.390 serta lower Bollinger 6.368. Apabila level 6.390 tembus, pelemahan diperkirakan berlanjut ke 6.300. Indikator RSI tercatat 44,60, di bawah sinyal 56,31 dan level netral 50, mengindikasikan momentum yang lemah namun belum oversold. Pekan lalu, IHSG telah terkoreksi 1,53% ke 6.441,16, dan saat ini dalam fase konsolidasi bearish.
Situasi ini mengharuskan investor untuk terus memantau pergerakan pasar dan faktor-faktor global maupun domestik yang dapat memengaruhi. Terutama, menanti hasil RDG BI yang akan menjadi penentu sentimen pasar ke depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.