Selasa, 7 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

BI Naikkan BI-Rate 25 Bps Jadi 5,75 Persen Juni 2026

BI Naikkan BI-Rate 25 Bps Jadi 5,75 Persen Juni 2026
(Ilustrasi: AI)

JAKARTA, JOURNALART.COMBank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen, keputusan yang diumumkan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo usai Rapat Dewan Gubernur pada Kamis (18/6/2026). Ini bukan kenaikan biasa, BI menyebutnya langkah pre-emptive untuk menahan inflasi sekaligus menstabilkan rupiah yang tertekan ketidakpastian global.

Bersamaan dengan BI-Rate, dua suku bunga acuan lain ikut naik. Deposit Facility naik 25 bps menjadi 4,75 persen, sementara Lending Facility kini berada di 6,50 persen.

Kenapa BI Memilih Menaikkan Suku Bunga?

Perry Warjiyo menegaskan, kenaikan ini dirancang untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam kisaran sasaran pemerintah, yakni 2,5±1 persen. Rupiah yang berfluktuasi akibat gejolak global termasuk dampak perang di Timur Tengah jadi alasan utama BI memilih pengetatan moneter ketimbang menunggu.

“Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit dan pembiayaan ke sektor riil, dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan,” kata Perry dalam konferensi pers di Jakarta.

Artinya, BI bermain dua sisi sekaligus. Suku bunga dinaikkan untuk rem inflasi dan stabilkan kurs. Tapi kebijakan makroprudensial tetap dilonggarkan agar kredit ke sektor riil tidak mampet.

Sistem Pembayaran Tetap Didorong Tumbuh

Meski moneter diperketat, kebijakan sistem pembayaran bergerak ke arah berlawanan tetap ekspansif. BI akan memperluas akseptasi pembayaran digital, memperkuat struktur industri sistem pembayaran, dan meningkatkan keandalan infrastrukturnya.

Ini penting bagi pelaku usaha dan konsumen. Transaksi digital yang terus tumbuh tak akan terganggu oleh kenaikan suku bunga, setidaknya dari sisi kebijakan BI.

Sinergi dengan Pemerintah dan KSSK Dipererat

BI tidak bergerak sendiri, Perry menyebut koordinasi dengan pemerintah khususnya antara kebijakan moneter dan fiskal terus diperkuat untuk meredam dampak ketidakpastian global terhadap ekonomi domestik.

Sinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga dipererat. Tujuannya ganda yaitu menjaga stabilitas sistem keuangan nasional sekaligus memastikan pembiayaan untuk program Asta Cita pemerintah tetap berjalan.

“Sinergi kebijakan dengan KSSK juga dipererat untuk turut menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pembiayaan bagi program Asta Cita Pemerintah,” ujar Perry.

Dampak bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha

Kenaikan BI-Rate lazimnya diikuti oleh perbankan yang menyesuaikan bunga kredit. Kredit pemilikan rumah, kendaraan, hingga pinjaman usaha berpotensi ikut naik dalam beberapa waktu ke depan meski besaran dan kecepatannya bergantung pada masing-masing bank.

Di sisi lain, simpanan di perbankan bisa menjadi lebih menarik. Bunga deposito cenderung naik mengikuti sinyal dari BI-Rate, memberi insentif bagi nasabah yang memilih instrumen konservatif.

Bagi pasar keuangan, keputusan ini mengirim sinyal bahwa BI serius menjaga rupiah. Tekanan depresiasi yang sempat mengkhawatirkan investor diharapkan bisa diredam lewat diferensial suku bunga yang lebih kompetitif terhadap dolar AS.

Rapat Dewan Gubernur berikutnya akan menjadi penanda apakah siklus kenaikan ini berlanjut atau BI mulai menahan diri, tergantung data inflasi dan pergerakan nilai tukar dalam beberapa pekan mendatang.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda