JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis data perdagangan per 5 Juni 2026 yang menunjukkan arus keluar dana dari investor asing terus berlanjut dengan angka yang cukup besar. Sepanjang tahun 2026, total aksi jual bersih atau net sell yang tercatat telah mencapai Rp61,36 triliun.
Tekanan jual ini menjadi salah satu pendorong utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam, turun 8,69 persen dalam satu pekan terakhir. Berikut adalah rincian lengkap data, faktor penyebab, dampak, serta upaya yang dilakukan otoritas untuk mengatasi kondisi ini.
Data Arus Modal dan Pergerakan Indeks
Net Sell Asing Capai Rp61,36 Triliun
Pada periode perdagangan 2 hingga 5 Juni 2026, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih harian sebesar Rp3,73 triliun. Jika diakumulasikan sejak awal tahun hingga tanggal tersebut, total nilai jual bersih mencapai Rp61,36 triliun.
Angka besar ini memberikan tekanan signifikan terhadap kinerja pasar. Akibatnya, kapitalisasi pasar secara keseluruhan turun 8,59 persen menjadi Rp9.807 triliun. Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp26,97 triliun, atau turun 5,71 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
IHSG Anjlok 8,69 Persen Sepekan
IHSG menutup perdagangan pada Jumat, 5 Juni 2026 di level 5.594,765. Angka ini menandakan penurunan sebesar 8,69 persen hanya dalam rentang waktu satu minggu. Koreksi ini meluas ke hampir seluruh saham berkapitalisasi besar atau big caps.
Tekanan pelemahan masih berlanjut pada sesi perdagangan berikutnya. Menurut catatan Mirae Asset Sekuritas, pada sesi awal Senin, 8 Juni 2026, IHSG kembali melemah 2,87 persen ke level 5.434.
Tekanan ini juga terasa di pasar keuangan lainnya. Nilai tukar rupiah tertekan dan mendekati level terlemah terhadap dolar AS, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,27 persen sebagai tanda meningkatnya permintaan premi risiko.
Faktor Penyebab Aksi Jual Besar Asing
Ada empat faktor utama yang menjadi alasan mengapa investor asing memilih melepas kepemilikan sahamnya di pasar Indonesia:
1. Hasil Tinjauan MSCI
Sejak peringatan yang dikeluarkan lembaga indeks global MSCI pada Januari 2026, kepercayaan investor mulai goyah. MSCI membekukan penambahan bobot saham Indonesia dalam indeksnya dan mengancam akan menurunkan status pasar dari Emerging Market menjadi Frontier Market jika perbaikan struktural tidak segera dilakukan. Sejak pengumuman itu, nilai pasar saham yang hilang mencapai sekitar 370 miliar dolar AS.
2. Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Rupiah beberapa kali mencetak rekor terendah akibat kekhawatiran pasar terhadap kondisi anggaran negara yang dipengaruhi ketegangan di Timur Tengah, serta biaya pelaksanaan program-program pemerintah. Pelemahan ini membuat nilai investasi asing berkurang saat dikonversikan kembali ke mata uang asalnya, sehingga mendorong mereka untuk menjual.
3. Imbal Hasil SBN yang Lebih Menarik
Dengan kenaikan imbal hasil SBN hingga 7,27 persen, investor asing lebih memilih memindahkan dananya ke instrumen utang negara yang dianggap lebih aman dan pasti keuntungannya, dibandingkan menanamkan di saham yang memiliki tingkat volatilitas dan risiko lebih tinggi.
4. Ketidakpastian Ekonomi Global
Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran mendorong kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, ekspektasi suku bunga acuan Amerika Serikat diperkirakan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi ini secara umum membuat dana investasi global cenderung keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.