Sabtu, 1 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Dana Asing Mulai Masuk Lagi ke SBN dan SRBI, Capai Rp 195 Triliun per Juni 2026

Dana Asing Mulai Masuk Lagi ke SBN dan SRBI, Capai Rp 195 Triliun per Juni 2026
Dana Asing Mulai Masuk Lagi ke SBN dan SRBI, Capai Rp 195 Triliun per Juni 2026

PARAPAT — Aliran modal asing ke pasar keuangan domestik mencatatkan tren positif sepanjang semester pertama tahun 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat total dana asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menembus angka Rp 195 triliun pada periode Januari hingga Juni 2026. Nilai investasi tersebut setara dengan lebih dari US$ 10 miliar.

Masuknya arus modal ini tidak lepas dari penyesuaian kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral. Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) yang dilakukan sejak akhir Mei memicu penyesuaian atau repricing pada aset domestik, yakni SBN dan SRBI.

BI secara bertahap menaikkan BI Rate dengan rincian kenaikan 50 bps pada 20 Mei 2026, diikuti kenaikan masing-masing 25 bps pada 9 Juni 2026 dan 18 Juni 2026.

Menurut Destry, arus masuk modal asing dalam jumlah besar ini sangat krusial untuk memperkuat posisi cadangan devisa serta menambah likuiditas pasar keuangan nasional. Harapannya, langkah ini mampu menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil di tengah gejolak eksternal.

Respons terhadap Gejolak Global

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli, bank sentral memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap tantangan jangka pendek dalam menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar.

Kondisi ekonomi dunia saat ini masih dilingkupi ketidakpastian tinggi, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak pada volatilitas pasar energi serta pasar keuangan global.

BI juga terus memantau arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Meski pada pertemuan terakhir Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, pernyataan petinggi The Fed, Kevin Warsh, memberi sinyal kuat mengenai tekanan ekonomi yang terus berlanjut.

Destry menegaskan bahwa dunia kini menghadapi situasi higher for longer, baik dari sisi suku bunga maupun obligasi pemerintah atau T-Bonds, yang secara otomatis memengaruhi kebijakan moneter di Indonesia.

Pengendalian Inflasi Pangan

Selain sektor moneter, bank sentral menaruh perhatian serius pada inflasi pangan (volatile food) yang terpantau berada di atas level 5 persen. Upaya pengendalian inflasi kini dijalankan melalui kolaborasi antara Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) lewat Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Program ini merupakan transformasi dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan capaian kinerja yang terukur hingga Juli 2026.

Beberapa realisasi program yang telah dijalankan meliputi optimalisasi Good Agricultural Practices (GAP) sebanyak 242 program (137,50 persen dari target), serta Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) sebanyak 785 program (303,09 persen dari target nasional).

Kerja Sama Antar Daerah (KAD) juga mencatatkan realisasi 267 nota kesepahaman atau 176,82 persen dari target tahunan, sementara kegiatan Gerakan Pasar Murah (GPM) telah mencapai 10.669 kegiatan yang akan terus diakselerasi hingga akhir tahun.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda