Kamis, 23 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Inflasi Juni 2026 Naik ke 3,34%: Penyebab Harga BBM dan Pangan Naik

Inflasi Juni 2026
Inflasi Juni 2026 Naik ke 3,34%: Penyebab Harga BBM dan Pangan Naik. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COMBank Indonesia melaporkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 masih terjaga dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah, meski mengalami tren kenaikan dibanding bulan sebelumnya. Realisasi laju indeks harga ini dipengaruhi oleh gejolak harga komoditas pangan serta penyesuaian harga energi di tingkat domestik.

Kenaikan ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat karena menyentuh kebutuhan pokok harian seperti beras dan bawang. Bagi pelaku industri, kenaikan harga energi juga berpotensi mengerek biaya operasional dan logistik secara keseluruhan.

Rincian Inflasi IHK Juni 2026

Data terbaru Bank Indonesia menunjukkan inflasi IHK Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang berada di level 3,08 persen (yoy).

Kenaikan laju inflasi pada pertengahan tahun ini didorong oleh pergerakan di tiga kelompok pengeluaran utama sebagai berikut:

Kelompok Pengeluaran Tingkat Inflasi (yoy) Faktor Pendorong Utama
Inflasi Inti 2,76% Konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia
Administered Prices (AP) 3,42% Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan avtur akibat harga energi global
Volatile Food (VF) 5,58% Kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan beras

Kelompok inflasi inti tercatat sebesar 2,76 persen (yoy) dan tetap berada dalam kondisi yang terkendali. Ter jaganya kelompok ini didukung oleh konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi agar tetap berada dalam sasaran.

Sementara itu, kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah mengalami kenaikan hingga mencapai 3,42 persen (yoy). Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan bahan bakar pesawat (avtur) menjadi pendorong utama kelompok ini, imbas tingginya harga energi global akibat konflik geopolitik yang masih berlangsung.

Tekanan terbesar datang dari kelompok volatile food atau harga pangan bergejolak yang melesat hingga 5,58 persen (yoy). Komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan beras menjadi penyumbang terbesar inflasi pangan akibat penurunan kapasitas produksi di sejumlah daerah sentra, kenaikan biaya transportasi, serta berakhirnya momentum musim panen raya.

Langkah Antisipasi Risiko El Nino

Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga pergerakan inflasi IHK berada di dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen untuk sisa tahun 2026 hingga tahun 2027.

Langkah pengendalian ini ditempuh melalui penguatan sinergi koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kolaborasi taktis tersebut difokuskan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh wilayah Indonesia.

Salah satu program konkret yang diandalkan adalah Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Program aksi ini ditujukan untuk mengamankan ketersediaan pasokan pangan di pasar sekaligus mengantisipasi risiko cuaca ekstrem El Nino yang berpotensi mengganggu stabilitas harga pangan nasional ke depan.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda