Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Intracon Parama Olah Air Asam Tambang di Aceh dan Kalsel

Intracon Parama Olah Air Asam Tambang di Aceh dan Kalsel
Air asam tambang yang biasanya jadi masalah lingkungan kini diubah jadi aset operasional. Foto: JournalArta

ACEH, JOURNALARTA.COM – Air asam tambang yang biasanya jadi masalah lingkungan kini diubah jadi aset operasional. PT Intracon Parama mengelola dan memanfaatkan kembali air asam tambang di dua wilayah tambang batubara besar Indonesia milik PT Mifa Bersaudara di Meulaboh, Aceh Barat, dan PT Borneo Indobara di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Dampaknya langsung terasa di dua sisi sekaligus yakni konsumsi air bersih dari sumber alam berkurang, dan potensi pencemaran lingkungan dari air asam yang tak terkelola bisa ditekan. Bukan solusi sederhana, ini butuh teknologi pengolahan spesifik dan sistem operasional yang terintegrasi di dalam area Izin Usaha Pertambangan (IUP) masing-masing perusahaan.

Prinsip Ekonomi Sirkular di Lubang Tambang

Air asam tambang terbentuk alami saat lapisan batuan yang mengandung mineral sulfida terbuka akibat aktivitas penggalian, lalu bereaksi dengan air dan udara. Cairan ini bersifat asam dan bisa merusak ekosistem perairan di sekitar tambang bila dibuang tanpa pengolahan.

Yang dilakukan Intracon Parama berbeda. Air asam itu diolah dan ditingkatkan kualitasnya lalu dialirkan kembali untuk kebutuhan operasional tambang. Siklus tertutup. Tak ada yang terbuang percuma.

Model seperti ini masuk dalam kerangka ekonomi sirkular, konsep yang dalam industri ekstraktif masih terbilang jarang diterapkan secara konsisten. Dua lokasi sekaligus yakni Aceh Barat dan Tanah Bumbu menjadi skala yang cukup signifikan untuk diperhatikan.

Kepercayaan Klien Jadi Kunci Proyek

Direktur Utama PT Intracon Parama, Dr. Ir. Ahmad Nahwani, menekankan satu hal yang menurutnya sering diabaikan dalam industri kontraktor pertambangan adalah kepercayaan.

Bukan retorika semata. Ia menunjuk langsung ke efek praktisnya.

“Ketika klien mempercayai kontraktornya, risiko konflik hukum dapat ditekan, pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, dan potensi pembengkakan biaya akibat kesalahan komunikasi dapat dihindari,” ujar Ahmad Nahwani.

Dalam proyek konstruksi dan penunjang operasional tambang, miskomunikasi antara pemilik IUP dan kontraktor bisa berujung pada pembengkakan biaya yang nilainya tidak kecil, belum lagi penundaan jadwal yang berdampak ke target produksi. Kepercayaan, kata Ahmad, memperlancar seluruh rantai itu.

Ia juga menegaskan standar kerja yang dijaga perusahaannya di setiap proyek. “Kami selalu memperhatikan aspek biaya, waktu, mutu, keselamatan kerja, dan lingkungan dalam berbagai proyek yang kami tangani,” katanya.

Mengapa Ini Penting bagi Industri Tambang

Regulasi lingkungan untuk sektor pertambangan terus diperketat. Perusahaan tambang kini tidak cukup hanya mengejar target produksi, mereka juga wajib membuktikan kepatuhan terhadap standar pengelolaan lingkungan, termasuk penanganan air asam tambang.

Kegagalan mengelola air asam bisa berujung pada sanksi administratif, pencabutan izin, hingga gugatan hukum dari komunitas lokal. Biayanya jauh lebih besar dari investasi pengolahan air itu sendiri.

Dari sisi efisiensi, pemanfaatan kembali air olahan mengurangi ketergantungan pada sumber air baku yang di beberapa wilayah tambang sudah mulai terbatas dan berkompetisi dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Di Aceh Barat maupun Tanah Bumbu, dua daerah dengan komunitas yang cukup padat di sekitar kawasan tambang, isu ini punya bobot sosial tersendiri.

Praktik yang dijalankan Intracon Parama di MIFA dan BIB menunjukkan bahwa pengelolaan tambang yang bertanggung jawab bukan sekadar slogan. Ada teknologi, ada sistem, ada kolaborasi antara pemegang IUP dan mitra kerja yang terukur dan hasilnya bisa diverifikasi langsung di lapangan.

Untuk industri pertambangan Indonesia yang terus dituntut naik kelas dalam standar lingkungan, model seperti ini layak jadi referensi.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda