Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
Harga BBM Pertamina 6 Juli 2026 Terbaru: Daftar Lengkap Pertalite Pertamax Dexlite   ·   Inflasi Juni 2026 Tembus 3,34 Persen, Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi via Program…   ·   Dinamika IPO Juli 2026: RANS Entertainment Jadi Sorotan, Investor Diminta Cermati Fundamental   ·   RI Resmikan Perdagangan Karbon: Mesin Baru Ekonomi Hijau dengan Target Transaksi Rp5…   ·   5 Fakta Stadion Azteca Mexico City 2026: Altitude, Kapasitas & Sejarah Piala…   ·   Prediksi Meksiko vs Inggris Piala Dunia 2026 16 Besar: Jadwal, H2H &…   ·   Ramalan Shio Hari Ini Senin 6 Juli 2026: Simak Peruntungan dan Panduannya   ·   Keunggulan Pesawat Tempur Sukhoi Su-35 Rusia yang Dikirim ke Iran 2026: Pengganti…   ·  
OLAHRAGA

10 Negara dengan Rudal Balistik Terkuat, Rusia Juara

10 Negara dengan Rudal Balistik Terkuat, Rusia Juara
Foto: DVIDSHUB/flickr (BY)

Rusia memimpin dalam teknologi ini dengan Avangard yang sudah operasional sejak 2019. Sistem ini diluncurkan dengan ICBM konvensional tetapi melepaskan glide vehicle yang bermanuver pada kecepatan ekstrem menuju target. China mengembangkan DF-ZF (juga dikenal sebagai WU-14) dengan kemampuan serupa. Amerika Serikat tertinggal dalam bidang ini, meskipun program-program seperti Conventional Prompt Strike (CPS) dan Air-Launched Rapid Response Weapon (ARRW) sedang dikembangkan.

Implikasi strategis dari hypersonic weapons sangat mendalam. Sistem pertahanan anti-rudal seperti THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) atau Aegis dirancang untuk mengintersep rudal pada trajectory yang dapat diprediksi. Hypersonic weapons yang manuver pada ketinggian rendah hingga menengah menciptakan window deteksi yang sangat sempit—terkadang hanya beberapa menit—sebelum impact. Ini mengurangi warning time dan membuat strategic decision-making dalam krisis menjadi sangat terkompresi.

Lebih jauh, kemampuan ini menciptakan first-strike advantage yang baru. Negara yang memiliki hypersonic weapons dapat secara teoritis melakukan serangan disarming terhadap sistem nuklir lawan sebelum mereka dapat merespons—menggerogoti prinsip mutual assured destruction yang telah menstabilkan hubungan nuclear powers sejak Perang Dingin.

Implikasi Geopolitik dan Arsitektur Keamanan Global

Distribusi kekuatan rudal balistik mencerminkan dan membentuk struktur kekuasaan global kontemporer. Dominasi Rusia dalam kategori ini, dikombinasikan dengan pertumbuhan pesat arsenal China, mengindikasikan shifting balance of power dari Barat ke arah multipolar world order.

Amerika Serikat menghadapi tantangan strategis yang kompleks. Selain harus mengmodernisasi arsenal aging, AS juga harus menjaga extended deterrence untuk sekutu-sekutu di Eropa dan Asia-Pasifik. Ini berarti AS perlu mempertahankan credible nuclear umbrella yang meyakinkan sekutu bahwa AS akan mempertaruhkan kota-kota sendiri untuk membela mereka—komitmen yang semakin dipertanyakan dalam era hypersonic weapons dan compressed decision timelines.

Di Asia, dynamic nuclear build-up antara China, India, dan Pakistan menciptakan kompleksitas baru. Tidak seperti bipolar nuclear standoff era Perang Dingin, Asia menghadapi multipolar nuclear competition di mana tiga negara dengan sejarah konflik teritorial aktif semuanya memiliki senjata nuklir. Risiko miscalculation atau unintended escalation dalam krisis regional meningkat signifikan.

Halaman:12345Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda