Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

BI Bantah Rupiah Baru Rp18.000 dan Rp1 Juta Beredar

rupiah baru
Foto: DARMAS BS 9 / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

JAKARTA — Klaim tentang rupiah baru bergambar Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang disebut beredar pada Juni 2026 ternyata palsu. Tempo memeriksa tiga versi gambar yang ramai di Instagram, Facebook, TikTok, X, dan YouTube, lalu menemukan semuanya adalah visual buatan kecerdasan buatan.

Gambar itu memuat lambang Garuda Pancasila dan logo Bank Indonesia. Nominal yang dipakai juga tak biasa: Rp18.000 dengan dua versi desain, lalu Rp1.000.000. Sekilas terlihat meyakinkan. Padahal, BI tidak pernah mengumumkan penerbitan uang rupiah baru dengan desain seperti itu.

Rupiah baru itu tidak pernah diterbitkan BI

Bank Indonesia menegaskan gambar yang beredar adalah uang palsu dalam arti visual, bukan uang resmi yang diterbitkan bank sentral. Melalui akun Instagram resminya, BI menyebut desain pada unggahan tersebut tidak ada dalam daftar uang rupiah yang sah.

“Uang Rupiah Rp18.000 yang Anda lampirkan tidak tersedia, dan Bank Indonesia tidak pernah menerbitkan nominal tersebut,” tulis BI dalam pernyataan tertulis pada Senin, 15 Juni 2026.

BI juga meminta masyarakat mengecek desain uang rupiah melalui menu Rupiah di situs resmi www.bi.go.id. Di sana, publik bisa melihat ciri uang sah, gambar resmi, dan informasi emisi yang benar. Ini penting, sebab sebaran gambar palsu seperti ini kerap memanfaatkan tampilan yang mirip desain resmi untuk mengelabui orang yang melihatnya sekilas di linimasa.

Hasil pemeriksaan: buatan AI, bukan desain uang resmi

Tempo tidak berhenti pada pernyataan BI. Redaksi juga menguji gambar itu dengan pemindai konten berbasis AI dan membandingkannya dengan informasi kredibel. Hasilnya konsisten: gambar-gambar tersebut dibuat secara digital.

Untuk versi Rp18.000 bergambar Monas, alat AI or NOT mendeteksi kemungkinan 77 persen sebagai produk AI, dengan indikasi model mirip GPT-4o. Aplikasi Zhuque AI Detector Assistant justru memberi sinyal lebih kuat, yakni peluang 99,14 persen bahwa gambar itu sintetis. Detektor yang sama juga menyimpulkan visual uang Rp18.000 bergambar Prabowo-Gibran merupakan hasil AI.

Pada gambar Rp18.000 bertema Makan Bergizi Gratis, Zhuque AI Detector Assistant menilai 99,8 persen sebagai tiruan digital. Decopay.ai dan Undetectable.ai ikut menguatkan kesimpulan itu karena unsur makanan dalam desain uang jelas tidak lazim untuk mata uang resmi. Uang kertas negara biasanya memuat unsur yang sangat terukur: lambang negara, pahlawan, seni, atau motif budaya yang diatur ketat. Bukan menu makan siang.

Nominal Rp1 juta juga palsu

Gambar lain yang beredar menampilkan pecahan Rp1.000.000 dengan wajah Prabowo dan Gibran. Hasil pemeriksaan juga tidak berubah. Hive Moderation mendeteksi gambar itu 99,9 persen sebagai konten buatan, dengan dugaan penggunaan model Imagen4 dari Google DeepMind pada sebagian analisis. Gemini menolak dugaan bahwa gambar itu berasal dari AI miliknya dan menyebut visual itu dibuat pengguna internet dengan generator lain.

Di Zhuque AI Detector Assistant, gambar Rp1.000.000 itu dinilai 98,26 persen sintetis. Tempo kemudian mengonfirmasi lagi lewat informasi resmi BI. Tidak ada pengumuman tentang pecahan baru, tidak ada redenominasi, dan tidak ada rilis uang baru pada awal Juni 2026.

Kalau uang resmi memang terbit, jejaknya tidak akan samar. Biasanya ada pengumuman publik, penjelasan ciri-ciri uang, koordinasi lintas lembaga, dan informasi yang mudah dilacak di kanal resmi. Dalam kasus ini, tak satu pun terpenuhi.

Kenapa klaim rupiah baru mudah dipercaya

Foto palsu seperti ini cepat menyebar karena memancing rasa ingin tahu. Ada unsur nama pejabat, ada logo institusi, ada nominal yang terdengar “khusus”. Campuran itu membuat orang berhenti scrolling dan sempat mengira gambar tersebut asli.

Penyebarannya juga menumpang pada isu yang lebih besar: pelemahan rupiah terhadap mata uang asing pada periode Mei hingga pertengahan Juni 2026. Di ruang publik, sentimen seperti ini sering dimanfaatkan untuk membuat satire, sindiran ekonomi, atau sekadar mencari perhatian. Masalahnya, satire yang tidak diberi konteks sering berubah jadi hoaks yang disangka fakta.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang memberi BI kewenangan penuh atas rupiah, mulai dari perencanaan, pencetakan, pengedaran, sampai pemusnahan. Artinya, penerbitan uang baru bukan urusan unggah gambar di media sosial. Ada prosedur resmi, pengumuman resmi, dan verifikasi resmi. Itu sebabnya masyarakat sebaiknya tidak mengandalkan tangkapan layar yang beredar di grup pesan atau potongan video pendek.

Apa yang perlu dilakukan pembaca

Kalau menerima gambar uang baru yang terasa janggal, langkah paling aman sederhana saja: cek situs BI, bandingkan dengan desain rupiah yang sudah resmi, lalu lihat apakah ada pengumuman dari kanal institusi. Jika informasinya hanya hidup di unggahan akun tak jelas, berhenti di situ. Jangan diteruskan.

Tempo menyimpulkan klaim bahwa BI menerbitkan rupiah baru Rp18.000 dan Rp1.000.000 pada Juni 2026 adalah salah. Gambar yang beredar merupakan visual buatan AI. Ke depan, publik masih perlu waspada karena pola semacam ini kemungkinan muncul lagi, apalagi saat isu ekonomi sedang sensitif dan foto yang tampak resmi terasa terlalu mudah dipercaya.

Ringkasan singkat: BI membantah penerbitan rupiah baru Rp18.000 dan Rp1.000.000; pemeriksaan Tempo menunjukkan gambar itu buatan AI; pengecekan terbaik tetap lewat kanal resmi BI di bi.go.id.

FAQ singkat: Apakah BI pernah menerbitkan pecahan Rp18.000? Tidak. Apakah ada redenominasi resmi pada Juni 2026? Tidak ada pengumuman resmi. Di mana mengecek rupiah sah? Di menu Rupiah situs BI dan akun resmi Bank Indonesia.

BI kemungkinan akan terus menghadapi gelombang visual palsu seperti ini, jadi verifikasi publik jadi benteng pertama sebelum gambar salah itu keburu dipercaya banyak orang.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda