Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Perundingan AS-Iran Dimulai di Swiss, Bahas Nuklir dan Lebanon

perundingan AS-Iran di resor Swiss membahas nuklir
Perundingan AS-Iran dimulai di Swiss dengan agenda nuklir, Lebanon, aset beku, dan minyak Iran. (Ilustrasi: AI)

BÜRGENSTOCK, SWISS — perundingan AS-Iran dimulai di resor pegunungan Bürgenstock, Swiss, pada Minggu, 21 Juni 2026 waktu setempat, dengan agenda yang langsung menyentuh dua isu paling panas: program nuklir Iran dan gencatan senjata di Lebanon. Delegasi Amerika Serikat, Iran, Pakistan, dan Qatar dijadwalkan duduk satu meja pada hari yang sama.

Bagi pembaca di kawasan ini, hasil pembicaraan itu bisa memengaruhi harga minyak, ketegangan di Timur Tengah, sampai arah diplomasi global dalam beberapa pekan ke depan. Jika pembicaraan macet, tekanan di kawasan berpotensi naik lagi. Jika ada terobosan, pintu negosiasi lain ikut terbuka.

Delegasi sudah tiba di Bürgenstock

Kementerian Luar Negeri Swiss mengatakan semua pihak terkait telah tiba di Bürgenstock untuk melanjutkan pembicaraan. Dalam unggahan di X, kementerian itu menyebut delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance, delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, serta mediator dari Pakistan dan Qatar sudah berada di lokasi.

“Talks between the parties are set to begin today,” tulis Kementerian Luar Negeri Swiss dalam unggahan itu. Iran juga sebelumnya menyebut pertemuan empat pihak itu akan berlangsung pada sore hari.

Laporan DW menyebut perundingan ini bersifat awal, tetapi bobotnya besar karena melibatkan mediasi aktif dari dua negara yang selama ini ikut menjaga jalur komunikasi tetap terbuka. Pakistan, khususnya, memposisikan diri sebagai penghubung di tengah konflik yang terus memanas.

Isu nuklir dan Lebanon jadi titik tekan

Kepala Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Swiss Ignazio Cassis di Bürgenstock, lokasi yang sama dengan agenda perundingan AS-Iran. Grossi menegaskan diplomasi masih punya ruang bergerak.

“At this critical moment, it’s important to give diplomacy every opportunity to succeed,” kata Grossi. Ia juga berterima kasih kepada Swiss atas dukungan lama mereka terhadap Badan Energi Atom Internasional dan komitmen pada diplomasi multilateral.

Masalah paling sensitif tetap sama: pengayaan uranium Iran dan pengawasan fasilitas nuklirnya. Washington selama ini menekan Teheran soal transparansi dan batas program nuklir, sementara Iran menuntut pengakuan atas hak dan ruang manuver ekonominya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan fokus utama pembicaraan kali ini justru konflik di Lebanon. Ia menyebut pertempuran yang melibatkan Israel dan Hezbollah telah memperlebar krisis di kawasan.

Minyak, aset beku, dan tekanan politik

Baghaei mengatakan agenda lain mencakup pembekuan aset Iran serta penerbitan izin penjualan minyak Iran. Ini bukan isu kecil. Minyak adalah salah satu penopang utama ekonomi Iran, dan setiap pembukaan akses dagang langsung berdampak pada pendapatan negara itu.

Ia juga menyebut ada “fragile cessation” of fire atau penghentian tembak-menembak yang rapuh di Lebanon sejak Sabtu malam. Iran menilai situasi itu belum stabil karena bentrokan di lapangan masih bisa pecah sewaktu-waktu.

Dari sisi Amerika Serikat, JD Vance mengatakan sebelum berangkat bahwa ia berharap ada kemajuan di dua titik besar: isu nuklir dan gencatan senjata di Lebanon. Kantornya menyebut ia dan istrinya, Usha Vance, tiba di Emmen Air Base dekat Lucerne pada Minggu dini hari.

“I can only be there for a day or two,” kata Vance kepada wartawan sebelum terbang dari Joint Base Andrews. Ia menegaskan pembicaraan singkat itu tetap diarahkan untuk mendorong hasil konkret, bukan sekadar pertemuan seremonial.

Hormuz, Israel, dan risiko pasar energi

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz ikut memberi bayangan gelap. Iran sebelumnya sempat mengatakan menutup selat itu, tetapi AS membantah klaim tersebut dan menyebut arus kapal masih berjalan. Selat ini penting karena menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia.

Komando militer gabungan Iran pada Sabtu juga kembali menyebut Hormuz ditutup, sembari menuding serangan Israel di Lebanon dan “bad faith” dari AS. Klaim itu menambah lapisan tekanan politik di meja perundingan, terutama karena pasar energi sensitif terhadap setiap sinyal gangguan pasokan.

Delegasi Pakistan di Bürgenstock juga menggelar pembicaraan bilateral dengan pihak-pihak terkait, termasuk Swiss. Islamabad menyebut langkah itu sebagai bagian dari komitmen pada dialog dan perdamaian yang tahan lama di kawasan.

Pembicaraan di Swiss ini belum menjanjikan hasil cepat. Tapi arahnya jelas: menahan konflik agar tidak melebar, menjaga jalur diplomasi tetap hidup, dan mencegah perang di satu titik merembet ke pasar minyak, perbatasan Lebanon, dan negosiasi nuklir yang jauh lebih luas. Hari ini baru pintu dibuka. Keputusan berikutnya masih harus ditunggu dari meja Bürgenstock.

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda