JAKARTA — LRT Velodrome-Manggarai ditargetkan diresmikan pada Agustus 2026. Jika jadwal ini meleset, dampaknya langsung terasa ke rencana integrasi transportasi Jakarta yang selama ini bergantung pada koneksi antarmoda di kawasan pusat kota.
LRT Velodrome-Manggarai masuk tahap akhir
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memutuskan jalur LRT Jakarta Fase 1B dari Velodrome ke Manggarai untuk segera diselesaikan. Nilai investasinya mencapai Rp12,5 triliun dengan 11 stasiun yang masuk dalam proyek tersebut.
Pramono menyampaikan target peresmian itu saat pencanangan pembangunan pedestrian deck Dukuh Atas di Jakarta Pusat, Minggu (21/6). “Pemerintah DKI Jakarta sudah memutuskan untuk LRT dari Velodrome sampai dengan Manggarai yang mudah-mudahan akan diresmikan pada bulan Agustus ini yang jumlah investasinya Rp12,5 triliun, titik stasiunnya 11, akan kami sambungkan sampai dengan Dukuh Atas,” kata Pramono.
Jalur ini penting karena menghubungkan koridor Jakarta Timur ke simpul mobilitas paling sibuk di ibu kota. Manggarai sudah lama disiapkan sebagai pengumpul arus penumpang dari berbagai arah. Begitu koneksi LRT masuk, arus perjalanan harian berpeluang makin singkat dan lebih rapi.
Bagi penumpang, kabar ini berarti satu hal sederhana: pilihan bepergian tanpa mobil pribadi makin banyak. Bagi pemerintah daerah, proyek ini adalah bagian dari pekerjaan besar yang lebih rumit dari sekadar membangun rel. Jalur, sinyal, listrik, dan sistem operasi harus saling cocok.
Dukuh Atas diproyeksikan jadi simpul enam moda
Pramono juga menegaskan bahwa jalur LRT Jakarta Fase 1B tidak berhenti di Manggarai. Pemerintah DKI menyiapkan sambungan lanjutan ke kawasan Dukuh Atas untuk memperkuat integrasi transportasi publik di Jakarta.
Menurut dia, Dukuh Atas akan menjadi titik temu enam moda sekaligus. Moda itu mencakup MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, TransJakarta, dan KRL Commuter Line.
“Maka dengan demikian Dukuh Atas akan ada MRT, LRT baik yang oleh pemerintah DKI Jakarta maupun oleh pemerintah pusat, kemudian Kereta Bandara, kemudian TransJakarta, KCI (KRL). Jadi ada enam (moda),” ujar Pramono.
Konsep simpul antarmoda seperti ini kerap menentukan kenyamanan perjalanan warga. Semakin sedikit perpindahan yang merepotkan, semakin mudah orang meninggalkan kendaraan pribadi. Dan itu inti dari banyak kebijakan transportasi di kota besar: membuat pindah moda terasa wajar, bukan melelahkan.
Di Jakarta, Dukuh Atas sudah dikenal sebagai kawasan yang sibuk pada jam berangkat dan pulang kerja. Bila koneksi fisiknya benar-benar rapat, kawasan ini bisa menjadi titik transit yang jauh lebih efektif daripada hanya sekadar nama besar dalam peta transportasi.
Uji sistem jadi penentu kesiapan operasi
Di luar target peresmian, pekerjaan teknis di lapangan masih berjalan. Sebelumnya, PT Waskita Karya (Persero) Tbk bersama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) memulai rangkaian testing and commissioning atau T&C untuk sistem perkeretaapian LRT Jakarta Fase 1B.
Salah satu tahapan yang sudah dikerjakan adalah pengujian jalur sepanjang 3,6 kilometer yang menghubungkan Stasiun Velodrome dan Stasiun Pramuka. Tahap ini menjadi penting karena jalur layang tidak bisa langsung dioperasikan hanya karena konstruksinya selesai. Sistemnya harus benar-benar berfungsi sebagai satu kesatuan.
Direktur Utama Jakpro Iwan Takwin sebelumnya mengatakan proses T&C dilakukan secara menyeluruh agar seluruh sistem siap sebelum masuk tahap operasional komersial. “Setiap meter pada jalur layang LRT Jakarta Fase 1B adalah tanggung jawab kami kepada masyarakat DKI Jakarta yang akan mengandalkan LRT setiap harinya. Maka itu, tahapan T&C ini harus dipersiapkan sangat matang,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Pengujian yang dilakukan mencakup jalur rel, sistem persinyalan, kelistrikan, komunikasi, hingga integrasi operasional antarsistem. Tahapan seperti ini sering kali tidak terlihat oleh publik, padahal justru di situ keselamatan penumpang ditentukan. Satu komponen yang belum sinkron bisa mengganggu jadwal operasional secara keseluruhan.
Karena itu, target peresmian Agustus 2026 menjadi semacam garis waktu yang ketat. Pemerintah daerah dan pengelola proyek harus menjaga keseimbangan antara penyelesaian fisik dan kesiapan sistem. Tidak cukup terlihat selesai. Harus siap dipakai.
Kenapa proyek ini penting bagi warga Jakarta
Bagi warga, proyek LRT Velodrome-Manggarai punya arti langsung pada waktu tempuh, koneksi perjalanan, dan kenyamanan berpindah moda. Jalur ini membuka akses yang lebih baik dari kawasan timur Jakarta ke pusat mobilitas kota, terutama bagi pekerja dan pelajar yang setiap hari bergantung pada transportasi umum.
Dalam praktiknya, integrasi seperti ini juga bisa mengurangi penumpukan di moda tertentu. Bila koneksi antarmoda berjalan mulus, penumpang tak perlu memaksa satu jenis transportasi untuk menanggung seluruh perjalanan. Perjalanan jadi lebih fleksibel. Lebih efisien. Dan, setidaknya di atas kertas, lebih hemat energi dan waktu.
Proyek senilai Rp12,5 triliun itu juga memperlihatkan betapa mahalnya membangun jaringan transportasi perkotaan yang terhubung rapi. Namun, nilai besar itu sejalan dengan skala kebutuhan Jakarta yang terus tumbuh. Kota dengan pergerakan penduduk setinggi ini memang tidak bisa bertumpu pada satu atau dua moda saja.
Pramono menutup penjelasannya dengan optimisme bahwa konektivitas yang baik akan membuat Jakarta lebih nyaman dan aman. “Itulah yang menunjukkan kalau memang semuanya nanti sudah terkoneksi dengan baik, Jakarta saya yakin akan menjadi lebih nyaman dan lebih aman,” ucapnya.
Setelah target Agustus ini, perhatian publik akan bergeser ke satu hal berikutnya: apakah sambungan ke Dukuh Atas bisa mengejar ritme pembangunan LRT Velodrome-Manggarai tanpa mengganggu kesiapan operasional yang sudah dijadwalkan.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.