Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Trump Diserang Kritik Bipartisan soal Kesepakatan Iran

Kritik bipartisan atas kesepakatan Iran di Washington
Kritik bipartisan atas kesepakatan Iran menguat saat Trump kembali mengancam serangan dan pembicaraan AS-Iran di Swiss berjalan alot. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Kesepakatan Iran yang dirintis Donald Trump langsung diserbu kritik dari kubu Demokrat dan Republik di Amerika Serikat, setelah sang presiden kembali mengancam serangan militer jika Teheran tidak menahan kelompok proksi di Lebanon.

Serangan politik itu muncul saat pembicaraan langsung AS-Iran di Lucerne, Swiss, baru saja memasuki putaran awal. Dampaknya tidak kecil. Pasar energi, jalur pelayaran Teluk Persia, dan ruang diplomasi Washington ikut terseret ke dalam tensi baru.

Kritik bipartisan atas kesepakatan Iran

Senator John Cornyn dari Partai Republik mengatakan kesepakatan itu terlalu longgar dan berisiko memberi napas baru bagi kemampuan militer Iran. Ia menilai tekanan ekonomi terhadap rezim yang dianggap bermasalah belum berhasil memaksa perubahan perilaku.

“Uang itu akan mereka pakai untuk mengganti aset rudal balistik dan mulai memperkaya uranium lagi,” kata Cornyn, seperti dikutip dari pernyataannya yang dirujuk media Amerika. Nada serupa datang dari sayap Demokrat.

Susan Rice, mantan duta besar AS untuk PBB sekaligus penasihat keamanan nasional di era Barack Obama, menyebut memorandum of understanding atau MOU yang diteken Trump di Paris pekan lalu sebagai kesepakatan yang “rapuh” dan “mencolok”. Dalam wawancara dengan ABC News This Week, Rice menilai terlalu banyak konsesi diberikan di depan sebelum ada kesepakatan nuklir yang lengkap.

Rice juga menyorot satu poin penting: Iran disebut sudah bisa menjual minyak dan produk minyaknya tanpa hambatan, lalu memakai pemasukan itu untuk membangun ulang kekuatannya. Menurut dia, pola itu sangat berbeda dengan pendekatan Obama dulu, ketika akses atas aset beku Iran dibatasi dan hanya boleh dipakai untuk tujuan kemanusiaan.

Soalnya, titik inilah yang dipersoalkan banyak politisi di Washington. Terlalu dini. Terlalu longgar.

Trump mengancam lagi, Vance bicara progres

Di saat kritik membesar, Trump justru menambah tekanan. Lewat Truth Social, ia menuntut Iran segera menghentikan “proksi bergaji tinggi” di Lebanon agar tidak bikin masalah. Jika tidak, Trump mengancam akan menyerang Iran “sangat keras lagi”, seperti pekan lalu.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda