Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Inflasi Euro Zona Terancam Tetap Tinggi, ECB Waswas Suku Bunga

Inflasi Euro Zona Terancam Tetap Tinggi, ECB Waswas Suku Bunga
Inflasi euro zona terancam tetap tinggi setelah perang AS-Iran mereda. (Ilustrasi: AI)

SINTRA — Inflasi euro zona masih terancam bertahan di atas target meski Amerika Serikat dan Iran sepakat mengakhiri perang di Timur Tengah. Peringatan itu disampaikan Presiden Bundesbank Joachim Nagel pada Selasa di sela Forum on Central Banking Bank Sentral Eropa (ECB) di Sintra, Portugal, seperti dilaporkan CNBC.

Peringatan ini penting karena pasar sudah sempat berharap tekanan harga akan cepat mereda setelah gencatan senjata diumumkan. Tapi bagi bank sentral, harga energi belum pulih sepenuhnya, dan itu bisa membuat keputusan suku bunga ECB berikutnya tetap serba hati-hati.

Inflasi euro zona masih dibayangi harga energi

Nagel mengatakan inflasi punya peluang untuk “tetap berada di level tinggi” karena guncangan harga energi masih terasa di sistem ekonomi. Ia menegaskan, “Saya menduga tingkat inflasi akan tetap secara signifikan di atas target kami.”

Ucapan itu mengacu pada efek perang AS-Iran dan blokade Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak yang sangat penting bagi pasar global. Ketika pasokan energi terganggu, harga minyak dan biaya logistik biasanya naik cepat, lalu merembet ke harga barang dan jasa lain.

Di euro zona, inflasi tercatat naik ke perkiraan 3,2 persen pada Mei, didorong kenaikan harga energi dua digit. Angka ini masih jauh di atas target ECB sebesar 2 persen. Bagi rumah tangga Eropa, itu berarti biaya hidup belum sepenuhnya kembali normal, mulai dari tagihan energi sampai harga pangan olahan dan transportasi.

Di level kebijakan, kondisi ini membuat ruang gerak bank sentral menyempit. ECB bisa saja memilih menahan laju pelonggaran moneter lebih lama, apalagi jika tekanan harga energi bertahan lebih lama dari dugaan.

ECB belum mau buru-buru ubah arah kebijakan

Nagel menilai kenaikan suku bunga acuan ECB awal bulan ini adalah keputusan yang tepat. Namun, ia juga mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk memastikan arah kebijakan berikutnya.

“Sekarang kami harus menunggu, situasinya masih sangat buram,” kata Nagel. “Apakah stabil atau tidak di Timur Tengah? Kami belum tahu. Ada pembicaraan damai, ada sekitar 50 hari lebih atau kurang, lalu kita lihat seberapa andal seluruh situasi ini.”

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda