Pernyataan itu menunjukkan ECB belum ingin terkunci pada satu skenario. Pasar energi, tensi geopolitik, dan data inflasi bulanan masih bisa mengubah hitungan dalam hitungan minggu, bukan bulan.
Data LSEG menunjukkan pasar saat ini masih memperhitungkan kemungkinan ECB kembali menaikkan suku bunga pada September. Artinya, spekulasi soal pengetatan belum hilang, meski sejumlah pelaku pasar sempat membaca gencatan senjata sebagai sinyal reda tekanan.
Lagarde: dunia berubah, tetapi alat utama tetap sama
Presiden ECB Christine Lagarde pada Senin juga menyampaikan nada serupa. Di Sintra, ia bilang bank sentral bisa kembali ke “dasar-dasar” setelah 15 tahun menghadapi tekanan luar biasa, mulai dari krisis utang negara hingga perang Rusia-Ukraina.
Menurut Lagarde, ECB kini tak lagi perlu terlalu sering mengandalkan instrumen non-konvensional. Fokus utama, kata dia, kembali pada suku bunga sebagai alat inti untuk menstabilkan inflasi.
“Kami tidak lagi perlu bertindak dengan kekuatan yang sama. Kami bisa membuat penyesuaian suku bunga secara terukur, disesuaikan dengan guncangan yang kami hadapi,” ujarnya.
Namun Lagarde juga mengingatkan dunia yang dihadapi sekarang berbeda jauh dari sebelumnya. Tarif terarah ala pemerintahan Donald Trump, perang Iran, dan ketegangan geopolitik lain membuat guncangan ekonomi lebih sering datang dari sisi pasokan.
Bagi pasar, pesan dari Sintra jelas: inflasi belum aman, dan ECB belum bisa santai. Jika harga energi kembali naik atau konflik Timur Tengah memanas lagi, tekanan ke euro zona bisa bertahan lebih lama. Pertanyaannya sekarang bukan cuma kapan inflasi turun, tapi seberapa lama bank sentral harus menjaga rem moneternya tetap diinjak.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.