SINTRA — Inflasi euro zona masih terancam bertahan di atas target meski Amerika Serikat dan Iran sepakat mengakhiri perang di Timur Tengah. Peringatan itu disampaikan Presiden Bundesbank Joachim Nagel pada Selasa di sela Forum on Central Banking Bank Sentral Eropa (ECB) di Sintra, Portugal, seperti dilaporkan CNBC.
Peringatan ini penting karena pasar sudah sempat berharap tekanan harga akan cepat mereda setelah gencatan senjata diumumkan. Tapi bagi bank sentral, harga energi belum pulih sepenuhnya, dan itu bisa membuat keputusan suku bunga ECB berikutnya tetap serba hati-hati.
Inflasi euro zona masih dibayangi harga energi
Nagel mengatakan inflasi punya peluang untuk “tetap berada di level tinggi” karena guncangan harga energi masih terasa di sistem ekonomi. Ia menegaskan, “Saya menduga tingkat inflasi akan tetap secara signifikan di atas target kami.”
Ucapan itu mengacu pada efek perang AS-Iran dan blokade Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak yang sangat penting bagi pasar global. Ketika pasokan energi terganggu, harga minyak dan biaya logistik biasanya naik cepat, lalu merembet ke harga barang dan jasa lain.
Di euro zona, inflasi tercatat naik ke perkiraan 3,2 persen pada Mei, didorong kenaikan harga energi dua digit. Angka ini masih jauh di atas target ECB sebesar 2 persen. Bagi rumah tangga Eropa, itu berarti biaya hidup belum sepenuhnya kembali normal, mulai dari tagihan energi sampai harga pangan olahan dan transportasi.
Di level kebijakan, kondisi ini membuat ruang gerak bank sentral menyempit. ECB bisa saja memilih menahan laju pelonggaran moneter lebih lama, apalagi jika tekanan harga energi bertahan lebih lama dari dugaan.
ECB belum mau buru-buru ubah arah kebijakan
Nagel menilai kenaikan suku bunga acuan ECB awal bulan ini adalah keputusan yang tepat. Namun, ia juga mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk memastikan arah kebijakan berikutnya.
“Sekarang kami harus menunggu, situasinya masih sangat buram,” kata Nagel. “Apakah stabil atau tidak di Timur Tengah? Kami belum tahu. Ada pembicaraan damai, ada sekitar 50 hari lebih atau kurang, lalu kita lihat seberapa andal seluruh situasi ini.”
Pernyataan itu menunjukkan ECB belum ingin terkunci pada satu skenario. Pasar energi, tensi geopolitik, dan data inflasi bulanan masih bisa mengubah hitungan dalam hitungan minggu, bukan bulan.
Data LSEG menunjukkan pasar saat ini masih memperhitungkan kemungkinan ECB kembali menaikkan suku bunga pada September. Artinya, spekulasi soal pengetatan belum hilang, meski sejumlah pelaku pasar sempat membaca gencatan senjata sebagai sinyal reda tekanan.
Lagarde: dunia berubah, tetapi alat utama tetap sama
Presiden ECB Christine Lagarde pada Senin juga menyampaikan nada serupa. Di Sintra, ia bilang bank sentral bisa kembali ke “dasar-dasar” setelah 15 tahun menghadapi tekanan luar biasa, mulai dari krisis utang negara hingga perang Rusia-Ukraina.
Menurut Lagarde, ECB kini tak lagi perlu terlalu sering mengandalkan instrumen non-konvensional. Fokus utama, kata dia, kembali pada suku bunga sebagai alat inti untuk menstabilkan inflasi.
“Kami tidak lagi perlu bertindak dengan kekuatan yang sama. Kami bisa membuat penyesuaian suku bunga secara terukur, disesuaikan dengan guncangan yang kami hadapi,” ujarnya.
Namun Lagarde juga mengingatkan dunia yang dihadapi sekarang berbeda jauh dari sebelumnya. Tarif terarah ala pemerintahan Donald Trump, perang Iran, dan ketegangan geopolitik lain membuat guncangan ekonomi lebih sering datang dari sisi pasokan.
Bagi pasar, pesan dari Sintra jelas: inflasi belum aman, dan ECB belum bisa santai. Jika harga energi kembali naik atau konflik Timur Tengah memanas lagi, tekanan ke euro zona bisa bertahan lebih lama. Pertanyaannya sekarang bukan cuma kapan inflasi turun, tapi seberapa lama bank sentral harus menjaga rem moneternya tetap diinjak.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.