Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Hanya 2% Sekolah di Inggris Punya Strategi AI Formal

Hanya 2% Sekolah di Inggris Punya Strategi AI Formal
Riset Accenture & Teach First: hanya 2% sekolah di Inggris punya strategi AI formal, meski mayoritas sudah pakai AI. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Sebagian besar sekolah di Inggris sudah memakai kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung proses belajar mengajar. Tapi hanya 2% yang punya strategi AI formal — dan itu masalah besar yang bisa berdampak langsung ke jutaan siswa.

Data ini datang dari riset terbaru yang dilakukan Accenture bersama lembaga pendidikan Teach First, dilaporkan TechRadar. Mereka menyurvei sekitar 200 sekolah menengah di Inggris, ditambah 30 wawancara mendalam dengan para pemimpin sekolah. Hasilnya gamblang: mayoritas sekolah berjalan pakai AI tanpa peta jalan yang jelas.

Bahkan kebijakan sederhana pun masih langka. Hanya 12% sekolah yang disurvei memiliki semacam kebijakan AI — bukan strategi komprehensif, sekadar kebijakan dasar. Selebihnya? Mereka bereksperimen sendiri-sendiri, tanpa panduan, tanpa berbagi temuan ke sesama sekolah.

Berjalan Tanpa Kompas

Bayangkan sebuah sekolah yang membeli peralatan lab baru, lalu membiarkan guru-gurunya pakai sesuka hati tanpa prosedur keamanan atau panduan penggunaan. Kira-kira begitulah kondisi AI di sebagian besar sekolah Inggris saat ini.

Matt Prebble, Head of Accenture UK&I, menyebut ini sebagai tantangan kepemimpinan yang nyata. “Banyak pemimpin sekolah yang menavigasi perubahan ini tanpa panduan yang jelas atau kepercayaan diri untuk menerapkan teknologi secara efektif,” katanya.

Ketiadaan strategi bukan berarti AI tak dipakai. Guru-guru sudah menggunakannya untuk menyusun rencana pelajaran, membuat soal latihan, hingga merancang pertanyaan ujian tiruan. Ini bukan eksperimen kecil — ini sudah jadi bagian dari keseharian kelas. Tapi tanpa kerangka formal, tidak ada standar, tidak ada perlindungan, dan tidak ada cara untuk belajar dari pengalaman sekolah lain.

Kesenjangan ini makin mencolok kalau dibandingkan dengan sektor bisnis. Data Gartner menunjukkan 27% pemimpin senior di level C-suite sudah punya strategi AI yang komprehensif. Sekolah-sekolah Inggris tertinggal jauh — padahal mereka justru menangani populasi yang paling rentan: anak-anak.

Tiga Kekhawatiran Utama Kepala Sekolah

Para pemimpin sekolah yang diwawancarai Accenture bukannya tak menyadari potensi AI. Mereka percaya teknologi ini bisa mengubah pendidikan secara signifikan. Tapi ada tiga hal yang terus menghantui pikiran mereka.

Pertama, plagiarisme. Siswa yang menyerahkan tugas hasil AI bukan lagi skenario hipotetis — ini sudah terjadi. Kedua, perlindungan data dan keamanan anak (safeguarding). Data siswa yang masuk ke sistem AI pihak ketiga membawa risiko privasi yang serius. Ketiga, bias algoritmik — kekhawatiran bahwa AI bisa memperkuat ketimpangan yang sudah ada, bukan menghapusnya.

Soal kesiapan guru, angkanya juga bicara banyak. Hampir dua pertiga responden, tepatnya 63%, menyebut kurangnya kepercayaan diri staf sebagai hambatan utama. Guru-guru mau bereksperimen, tapi mereka butuh izin dan dukungan — bukan sekadar dibiarkan coba-coba sendiri.

London Jauh di Depan, Daerah Lain Tertinggal

Ada kesenjangan geografis yang cukup tajam. Di London, 29% pemimpin sekolah menggunakan AI setiap hari. Di luar London, angka itu anjlok ke 12%. Ini bukan sekadar soal akses teknologi — kepemimpinan sekolah dan gaya pendekatan kepala sekolah ternyata berpengaruh besar.

Riset Accenture menemukan bahwa sikap kepala sekolah yang skeptis secara langsung memperlambat dan membuat adopsi AI menjadi tambal sulam. Sekolah dengan pemimpin yang aktif dan terbuka terhadap AI bergerak lebih cepat dan lebih terstruktur.

Laporan pemerintah Inggris terpisah juga menyebut AI berpotensi memberikan umpan balik yang lebih personal kepada siswa dan mengurangi beban administratif guru — waktu yang semestinya bisa dipakai untuk mengajar. Tapi potensi itu hanya bisa terwujud kalau ada sistem yang menopangnya.

Risiko Terbesar: Diam dan Tidak Berbuat Apa-Apa

Department for Education Inggris menegaskan keamanan harus jadi prioritas utama. Regulator pendidikan Ofsted pun mendukung penggunaan AI yang bertanggung jawab. Tapi dukungan prinsip tanpa panduan konkret hanya menghasilkan kebingungan di lapangan.

Seorang kepala sekolah anonim yang diwawancarai Ofsted dalam laporan terpisah menyampaikan peringatan yang tajam: “Risiko terbesar adalah tidak melakukan apa-apa dan berasumsi bahwa semuanya bisa berjalan seperti biasa.”

James Toop, CEO Teach First, menyoroti dampak yang bisa dirasakan langsung oleh siswa. “Memastikan setiap anak muda, terlepas dari latar belakang atau tempat tinggal mereka, bisa dengan aman memanfaatkan peluang yang AI tawarkan harus menjadi prioritas sistem pendidikan,” tegasnya.

Soalnya, kalau strategi AI hanya berkembang di sekolah-sekolah kaya atau di kota besar, kesenjangan yang ada justru akan melebar. Siswa dari keluarga kurang mampu atau daerah terpencil bisa ketinggalan manfaat yang seharusnya bisa mereka nikmati juga.

Lima Langkah yang Direkomendasikan

Accenture dan Teach First tidak sekadar memotret masalah. Mereka menyusun lima prioritas konkret untuk sekolah yang ingin bergerak maju dengan AI secara bertanggung jawab.

Kepala sekolah dan pemimpin harus terlibat langsung dan terlihat dalam penggunaan AI — bukan hanya mendelegasikan ke staf IT. Kebijakan harus mendefinisikan dengan jelas tujuan dan batasan penggunaan AI. Sekolah sebaiknya memulai dari pilot kecil di area yang paling jelas manfaatnya sebelum memperluas jangkauan. Guru perlu diberi ruang dan izin eksplisit untuk bereksperimen. Dan pembelajaran bersama antar-sekolah harus melengkapi pelatihan formal — bukan menggantikannya.

“Membangun kapabilitas kepemimpinan dan memberikan dukungan praktis untuk mengadopsi AI secara bertanggung jawab akan sangat kritis untuk memastikan manfaatnya dirasakan secara konsisten dan merata di seluruh sistem pendidikan,” kata Prebble.

Kondisi ini relevan juga untuk Indonesia, di mana penggunaan AI di ruang kelas mulai tumbuh tetapi regulasi dan panduan resmi dari pemerintah masih sangat terbatas. Pelajaran dari Inggris jelas: teknologi bergerak lebih cepat dari kebijakan, dan celah itulah yang paling berbahaya.


Ringkasan 3 Poin:

  • Hanya 2% dari sekitar 200 sekolah menengah di Inggris yang disurvei Accenture dan Teach First memiliki strategi AI formal, meski mayoritas sudah menggunakan AI dalam keseharian.
  • Hambatan utama mencakup kekhawatiran soal plagiarisme, keamanan data siswa, bias algoritmik, dan rendahnya kepercayaan diri staf — 63% sekolah menyebut hal terakhir ini sebagai tantangan terbesar.
  • Tanpa strategi yang merata, kesenjangan akses AI antara London (29% pemakaian harian) dan daerah lain di Inggris (12%) bisa memperparah ketimpangan pendidikan.

FAQ Singkat:

Apakah sekolah-sekolah di Inggris sudah pakai AI? Ya, sudah — untuk menyusun rencana pelajaran, membuat soal latihan, dan tugas administratif. Tapi tanpa strategi formal, penggunaannya tidak terstandar.

Kenapa strategi AI penting untuk sekolah? Tanpa strategi, tidak ada perlindungan untuk siswa, tidak ada standar kualitas, dan tidak ada cara untuk berbagi pembelajaran antar-sekolah. Risikonya bisa langsung dirasakan oleh anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Apa yang bisa dilakukan sekolah sekarang? Mulai dari kebijakan dasar yang jelas, libatkan kepala sekolah secara langsung, dan mulai pilot kecil sebelum memperluas penggunaan AI ke seluruh sekolah.

(TCJ)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda