Pertama, plagiarisme. Siswa yang menyerahkan tugas hasil AI bukan lagi skenario hipotetis — ini sudah terjadi. Kedua, perlindungan data dan keamanan anak (safeguarding). Data siswa yang masuk ke sistem AI pihak ketiga membawa risiko privasi yang serius. Ketiga, bias algoritmik — kekhawatiran bahwa AI bisa memperkuat ketimpangan yang sudah ada, bukan menghapusnya.
Soal kesiapan guru, angkanya juga bicara banyak. Hampir dua pertiga responden, tepatnya 63%, menyebut kurangnya kepercayaan diri staf sebagai hambatan utama. Guru-guru mau bereksperimen, tapi mereka butuh izin dan dukungan — bukan sekadar dibiarkan coba-coba sendiri.
London Jauh di Depan, Daerah Lain Tertinggal
Ada kesenjangan geografis yang cukup tajam. Di London, 29% pemimpin sekolah menggunakan AI setiap hari. Di luar London, angka itu anjlok ke 12%. Ini bukan sekadar soal akses teknologi — kepemimpinan sekolah dan gaya pendekatan kepala sekolah ternyata berpengaruh besar.
Riset Accenture menemukan bahwa sikap kepala sekolah yang skeptis secara langsung memperlambat dan membuat adopsi AI menjadi tambal sulam. Sekolah dengan pemimpin yang aktif dan terbuka terhadap AI bergerak lebih cepat dan lebih terstruktur.
Laporan pemerintah Inggris terpisah juga menyebut AI berpotensi memberikan umpan balik yang lebih personal kepada siswa dan mengurangi beban administratif guru — waktu yang semestinya bisa dipakai untuk mengajar. Tapi potensi itu hanya bisa terwujud kalau ada sistem yang menopangnya.
Risiko Terbesar: Diam dan Tidak Berbuat Apa-Apa
Department for Education Inggris menegaskan keamanan harus jadi prioritas utama. Regulator pendidikan Ofsted pun mendukung penggunaan AI yang bertanggung jawab. Tapi dukungan prinsip tanpa panduan konkret hanya menghasilkan kebingungan di lapangan.
Seorang kepala sekolah anonim yang diwawancarai Ofsted dalam laporan terpisah menyampaikan peringatan yang tajam: “Risiko terbesar adalah tidak melakukan apa-apa dan berasumsi bahwa semuanya bisa berjalan seperti biasa.”
James Toop, CEO Teach First, menyoroti dampak yang bisa dirasakan langsung oleh siswa. “Memastikan setiap anak muda, terlepas dari latar belakang atau tempat tinggal mereka, bisa dengan aman memanfaatkan peluang yang AI tawarkan harus menjadi prioritas sistem pendidikan,” tegasnya.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.