Selasa, 23 Juni 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

10 Tips Irit BBM Mobil Matic di Kemacetan 2026: Hemat Sampai 30%

Irit BBM Mobil Matic di Kemacetan 2026: Hemat Sampai 30%
Ilustrasi kemacetan di Kota Besar. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Mobil matic bisa 15–30% lebih boros dari manual jika pengemudinya salah teknik, terutama di kemacetan stop-and-go yang makin parah di kota-kota besar Indonesia. Dengan harga Pertalite Rp10.000 per liter dan Pertamax di kisaran Rp12.300, selisih pengeluaran BBM setiap bulan bisa terasa signifikan khususnya bagi pengemudi harian, ojek online, dan karyawan yang setiap hari menembus kemacetan Jakarta, Surabaya, Bandung, Palembang, atau Makassar.

Masalahnya sederhana. Mobil matic menggunakan torque converter yang terus memindahkan gigi 1–2 saat kondisi stop-go. RPM naik-turun, injeksi bensin jadi lebih banyak. Konsumsi BBM di kemacetan bisa anjlok ke 1:6 sampai 1:8, padahal di tol lancar kendaraan yang sama bisa mencapai 1:14. Selisihnya hampir dua kali lipat.

Kabar baiknya, ada cara konkret untuk memangkasnya.

Teknik Berkendara yang Langsung Berpengaruh

Hal pertama yang paling mudah diterapkan: aktifkan fitur auto hold atau idling stop. Mobil matic keluaran 2020 ke atas umumnya sudah dilengkapi fitur ini. Ketika mobil berhenti lebih dari tiga detik, mesin mati otomatis dan menyala kembali begitu kaki lepas rem. Penghematan BBM dari fitur ini saja bisa mencapai 5–10%. Sayang banyak pengemudi justru menonaktifkannya karena merasa tidak nyaman.

Jaga jarak aman dari kendaraan di depan. Lihat kondisi tiga mobil ke depan, bukan satu. Kalau lampu merah masih jauh dan antrean panjang, lepas gas dari awal, bukan mendadak saat sudah dekat. Injak gas secara bertahap. Matic sangat sensitif terhadap pijakan gas yang kasar.

Soal mode transmisi: cukup pakai D + Eco Mode saat macet. Mode Sport “S” mempertahankan RPM tinggi yang artinya konsumsi bahan bakar ikut naik. Mode manual dengan geser tuas juga bikin perpindahan gigi jadi terlambat. Eco Mode saja bisa hemat 10–15% dibanding mode Sport.

Satu kebiasaan yang sering tidak disadari: menahan rem dan gas bersamaan. Kaki kiri di rem, kanan di gas kebiasaan ini bikin mesin terus melawan hambatan sendiri. Mobil matic sudah punya creep function; cukup lepas rem, mobil akan bergerak pelan dengan sendirinya. Injak gas hanya kalau benar-benar perlu melaju.

AC, Ban, dan Beban Mobil

AC menyerap 10–20% tenaga mesin. Kalau macet total dan berhenti lebih dari satu menit, matikan sebentar dan buka kaca. Tapi jangan dipaksakan kalau suhu di luar sedang terik karena kesehatan tetap prioritas.

Tekanan ban juga sering diremehkan. Ban yang kempes membuat area kontak ban dengan aspal lebih luas, mesin harus bekerja lebih keras. Cek tekanan ban dua minggu sekali standarnya tertera di pilar pintu pengemudi. Ban dengan tekanan tepat bisa menghemat 3–5% BBM.

Beban mobil pun berpengaruh nyata. Setiap tambahan 50 kg membuat konsumsi BBM naik sekitar 2%. Kosongi bagasi dari barang yang tidak terpakai.

Perawatan Rutin yang Sering Terlewat

Ganti oli mesin tiap 5.000–10.000 km, oli transmisi matic tiap 40.000 km, dan filter udara tiap 20.000 km. Oli matic yang sudah hitam pekat bisa menyebabkan selip transmisi, dan selip berarti tenaga terbuang, BBM pun ikut terbuang. Mesin yang terawat ringan konsumsi bahan bakarnya lebih efisien.

Untuk perawatan lebih dalam, gurah mesin tiap 40.000 km membantu membersihkan ruang bakar dari kerak karbon. Kalau tiba-tiba BBM terasa jauh lebih boros dari biasanya, cek sensor O2 dan MAF dua sensor ini langsung memengaruhi kalkulasi injeksi bahan bakar oleh ECU.

Pilih BBM yang Tepat, Bukan Sekadar yang Mahal

Ini poin yang banyak disalahpahami. Mobil LCGC dengan kompresi 10:1 cukup memakai Pertalite RON 90. Mengisi Pertamax di mobil yang tidak memerlukannya tidak membuat konsumsi lebih irit tapi hanya menambah pengeluaran Rp2.300 per liter. Sebaliknya, mobil bermesin turbo dengan kompresi tinggi wajib memakai Pertamax Turbo. Pakai BBM di bawah rekomendasi pabrikan justru bisa memicu knocking yang merusak mesin dalam jangka panjang.

Berapa Penghematannya dalam Sebulan?

Mari hitung konkret. Misalkan mobil matic saat ini konsumsinya 1:8 di kemacetan. Dengan menerapkan tips di atas secara konsisten, konsumsi bisa naik ke kisaran 1:10 hingga 1:10,5.

Kondisi Konsumsi BBM/Hari (40km) Biaya/Hari Biaya/Bulan
Sebelum (teknik biasa) 1:8 5 liter Rp50.000 Rp1.500.000
Sesudah (10 tips) 1:10 4 liter Rp40.000 Rp1.200.000
Selisih β€” 1 liter Rp10.000 Rp300.000

Rp300.000 per bulan hanya dari mengubah gaya berkendara dan menjaga perawatan rutin. Tanpa keluar biaya tambahan berarti.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul

Matic vs manual, mana lebih irit di macet? Manual masih lebih irit 15–20% di tangan pengemudi yang terampil. Tapi selisihnya kini makin tipis, dan matic jauh lebih nyaman untuk kemacetan panjang.

Matikan AC saat macet, aman? Aman untuk durasi di bawah satu menit. Lebih dari itu di cuaca panas, nyalakan saja sebab kesehatan pengemudi dan penumpang tetap di atas segalanya.

Pertalite vs Pertamax, mana lebih irit untuk matic? Efisiensinya setara jika dipilih sesuai spesifikasi mesin. Mengisi Pertamax di mobil LCGC tidak menambah jarak tempuh per liter tapi hanya menambah tagihan di SPBU.

(RE)

πŸ“²
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

πŸ’¬ Follow @journalartanews β†’
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda