JAKARTA — CEO Amazon Web Services Matt Garman menilai AI dan pekerjaan kantor tidak akan berakhir dengan gelombang pemutusan massal, meski banyak prediksi di Silicon Valley menyebut kecerdasan buatan bakal memangkas jutaan pekerjaan tingkat awal. Ia menyampaikannya dalam podcast Platformer yang dirilis Selasa, sembari menegaskan Amazon masih merekrut ribuan talenta muda tahun ini.
Garman menyebut ramalan soal separuh pekerjaan kantoran lenyap terdengar dramatis, tetapi tidak masuk akal secara ekonomi. Ia juga membandingkan kegaduhan seputar AI hari ini dengan kemunculan Microsoft Excel dulu. Pekerjaan berubah. Bukan lenyap.
AI dan pekerjaan kantor: berubah, bukan hilang
“Jika Anda percaya bahwa setengah pekerjaan akan hilang, seluruh ekonomi akan runtuh dengan sendirinya,” kata Garman. “Semua akan hilang. Anda tidak akan punya AI, lalu pada suatu titik harus kembali ke pekerjaan lain itu. Hitung-hitungannya tidak cocok.”
Pernyataan itu muncul saat perdebatan tentang masa depan kerja makin panas. CEO Anthropic Dario Amodei sebelumnya mengingatkan AI bisa menghapus sampai setengah pekerjaan kantor tingkat awal. Garman tidak sependapat. Menurut dia, ekonomi modern tetap membutuhkan orang yang punya penghasilan, lalu membelanjakannya. Jika aliran itu putus, rantai bisnis ikut goyah.
Kalimatnya singkat. Tegas.
Garman tidak menutup mata bahwa sebagian peran akan hilang. Namun, ia menekankan kata “hilang” berbeda dengan “berubah”. Menurut dia, AI akan mendorong perusahaan membentuk ulang alur kerja, bukan membabat habis tenaga kerja kerah putih. Pekerjaan yang dulu dikerjakan manual, lalu diotomatisasi, biasanya bergeser ke tugas yang lebih bernilai.
Pelajaran dari Excel dan perubahan kerja
Untuk menjelaskan logikanya, Garman membawa contoh yang akrab bagi dunia kerja: Excel. Saat perangkat lunak spreadsheet itu meluas, banyak pekerjaan hitung-hitungan manual berkurang. Tapi, perusahaan tidak berhenti membutuhkan orang. Para pekerja justru belajar alat baru, lalu pindah ke tugas yang lebih kompleks.
Ia melihat pola serupa terjadi di era AI. Keahlian teknis tetap penting, tetapi kemampuan beradaptasi ikut naik kelas. Orang yang mau belajar cepat, kata dia, akan lebih siap menghadapi perubahan cara kerja. Mereka yang menolak belajar justru paling rawan tertinggal.
Di titik ini, pesan Garman terasa relevan juga untuk pembaca di Indonesia. Banyak perusahaan di sini sedang mengejar efisiensi, dari penggunaan chatbot layanan pelanggan sampai otomatisasi laporan internal. Kalau pola yang sama terjadi, pekerja kantoran tidak otomatis hilang. Yang berubah adalah jenis tugas yang dikerjakan tiap hari.
Amazon tetap rekrut intern dan lulusan baru
Meski Amazon sendiri berada di garis depan adopsi AI, perusahaan itu tidak berhenti mencari orang muda. Garman mengatakan Amazon berencana merekrut 11.000 intern dan lulusan baru tahun ini. Ia juga menyebut jumlah software developer di Amazon saat ini justru lebih banyak dibanding dua tahun lalu, walau alat coding berbasis AI sudah jauh lebih canggih.
Dalam pernyataan kepada Fortune, Amazon mengatakan perusahaan tetap berkomitmen pada program magang sebagai jalur penting untuk menemukan generasi pemimpin dan pembangun berikutnya. Bagi Garman, alasan bisnisnya sederhana: pekerja awal biasanya lebih murah, mudah dilatih, dan belum keburu membawa kebiasaan kerja yang sulit diubah.
“Mereka belum belajar kebiasaan buruk, Anda bisa mengajari budaya perusahaan, mereka mau belajar alat baru, dan mereka termasuk karyawan terbaik yang bisa Anda dapatkan,” ujarnya.
Ada alasan lain yang lebih halus. Orang muda membawa sudut pandang segar. Di perusahaan besar, perspektif seperti ini sering justru hilang karena tim terlalu lama diisi orang yang sama. Garman menyebut energi, rasa ingin tahu, dan semangat belajar sebagai modal penting yang sering diremehkan.
Kenapa perekrutan entry-level tetap penting
Garman punya alasan personal untuk percaya pada talenta muda. Ia masuk Amazon pada 2005 sebagai intern MBA ketika masih kuliah di Northwestern University, lalu naik level selama hampir dua dekade di bisnis cloud sebelum menjadi CEO AWS pada 2024. Pengalaman itu, menurutnya, membuat ia paham bahwa jalur masuk ke perusahaan besar sering dimulai dari posisi awal.
Pandangan Garman sejalan dengan beberapa bos teknologi lain yang mulai hati-hati dengan narasi “AI akan memangkas semua pekerjaan awal”. Ravi Kumar S dari Cognizant mengatakan perusahaannya merekrut 20.000 lulusan baru pada 2025 dan memperkirakan jumlah itu naik pada 2026. IBM juga menyebut akan melipatgandakan perekrutan entry-level setelah menyimpulkan ketergantungan berlebihan pada efisiensi AI bukan strategi jangka panjang yang sehat.
Nickle LaMoreaux, chief human resources officer IBM, bahkan mengingatkan soal lubang besar di pipa talenta jika perusahaan berhenti merekrut pekerja awal. “Kalau kita tidak terus berinvestasi pada karyawan entry-level, apa yang terjadi dalam tiga sampai lima tahun?” ujarnya. “Tidak ada pipeline; sumurnya kering.”
Garis besarnya mulai jelas. Perusahaan besar memang akan memakai AI untuk menekan biaya dan mempercepat kerja. Tapi mereka juga sadar, tanpa generasi baru, organisasi kehilangan napas panjang. Yang dipertaruhkan bukan cuma jumlah pekerjaan hari ini, melainkan siapa yang akan memimpin bisnis lima tahun mendatang. Dan pertanyaan itu belum selesai dijawab.
Ringkasan singkat
1. Matt Garman dari Amazon Web Services menilai AI dan pekerjaan kantoran akan berubah, bukan musnah.
2. Amazon tetap merekrut 11.000 intern dan lulusan baru tahun ini, sambil menekankan kemampuan belajar dan adaptasi.
3. Sejumlah eksekutif lain, termasuk dari Cognizant dan IBM, juga mulai menolak prediksi pesimistis soal lenyapnya pekerjaan entry-level.
FAQ: Apakah AI akan menghapus pekerjaan kantor? Menurut Garman, tidak secara massal. Apa yang paling dicari perusahaan? Kemampuan belajar cepat, rasa ingin tahu, dan fleksibilitas. Apa dampaknya bagi pekerja muda? Peluang tetap ada, tapi mereka perlu lebih siap memakai alat kerja baru.
Ke depan, debat soal AI dan pekerjaan akan bergeser dari “apakah pekerjaan hilang” menjadi “pekerjaan mana yang berubah paling cepat” — dan perusahaan yang menyiapkan talenta mudanya sejak sekarang kemungkinan akan lebih siap menang.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.