Di titik ini, pesan Garman terasa relevan juga untuk pembaca di Indonesia. Banyak perusahaan di sini sedang mengejar efisiensi, dari penggunaan chatbot layanan pelanggan sampai otomatisasi laporan internal. Kalau pola yang sama terjadi, pekerja kantoran tidak otomatis hilang. Yang berubah adalah jenis tugas yang dikerjakan tiap hari.
Amazon tetap rekrut intern dan lulusan baru
Meski Amazon sendiri berada di garis depan adopsi AI, perusahaan itu tidak berhenti mencari orang muda. Garman mengatakan Amazon berencana merekrut 11.000 intern dan lulusan baru tahun ini. Ia juga menyebut jumlah software developer di Amazon saat ini justru lebih banyak dibanding dua tahun lalu, walau alat coding berbasis AI sudah jauh lebih canggih.
Dalam pernyataan kepada Fortune, Amazon mengatakan perusahaan tetap berkomitmen pada program magang sebagai jalur penting untuk menemukan generasi pemimpin dan pembangun berikutnya. Bagi Garman, alasan bisnisnya sederhana: pekerja awal biasanya lebih murah, mudah dilatih, dan belum keburu membawa kebiasaan kerja yang sulit diubah.
“Mereka belum belajar kebiasaan buruk, Anda bisa mengajari budaya perusahaan, mereka mau belajar alat baru, dan mereka termasuk karyawan terbaik yang bisa Anda dapatkan,” ujarnya.
Ada alasan lain yang lebih halus. Orang muda membawa sudut pandang segar. Di perusahaan besar, perspektif seperti ini sering justru hilang karena tim terlalu lama diisi orang yang sama. Garman menyebut energi, rasa ingin tahu, dan semangat belajar sebagai modal penting yang sering diremehkan.
Kenapa perekrutan entry-level tetap penting
Garman punya alasan personal untuk percaya pada talenta muda. Ia masuk Amazon pada 2005 sebagai intern MBA ketika masih kuliah di Northwestern University, lalu naik level selama hampir dua dekade di bisnis cloud sebelum menjadi CEO AWS pada 2024. Pengalaman itu, menurutnya, membuat ia paham bahwa jalur masuk ke perusahaan besar sering dimulai dari posisi awal.
Pandangan Garman sejalan dengan beberapa bos teknologi lain yang mulai hati-hati dengan narasi “AI akan memangkas semua pekerjaan awal”. Ravi Kumar S dari Cognizant mengatakan perusahaannya merekrut 20.000 lulusan baru pada 2025 dan memperkirakan jumlah itu naik pada 2026. IBM juga menyebut akan melipatgandakan perekrutan entry-level setelah menyimpulkan ketergantungan berlebihan pada efisiensi AI bukan strategi jangka panjang yang sehat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.