Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Dampak Harga Minyak Turun ke Saham Energi: BBCA, PGAS, AKRA Kena Sentimen

Dampak Harga Minyak Turun ke Saham Energi
Penurunan harga minyak dunia sebesar sekitar 2% pada sesi perdagangan Jumat 26 Juni 2026 ini langsung terasa dampaknya di Bursa Efek Indonesia. Foto: JournalArta

Sebagai perusahaan yang bergerak di hulu, keduanya sangat bergantung pada harga minyak. Perlu diperhatikan bahwa biaya pengambilan minyak (lifting cost) mereka berkisar antara $45 hingga $50 per barel. Di level harga saat ini sekitar $70-an, kedua emiten masih berada dalam zona aman dan tetap mencetak laba.

Koreksi yang terjadi hari ini lebih bersifat aksi ambil keuntungan setelah harga sempat melonjak akibat insiden di Selat Hormuz, bukan sinyal memburuknya fundamental usaha.

Dampak ke Saham Batubara: ADRO, PTBA, ITMG

Secara umum, batubara dianggap sebagai pesaing minyak. Jika minyak lebih murah, seharusnya permintaan batubara menurun. Namun kondisi pada tahun 2026 menunjukkan dinamika yang berbeda:

1. Harga Acuan Tetap Tinggi: Harga Batubara Acuan (HBA) masih bertahan di kisaran $95 per ton, jauh di atas biaya produksi sehingga margin keuntungan tetap terjaga.

2. Pergeseran Kebijakan: Negara pengimpor utama seperti China tetap memilih batubara karena pasokannya lebih stabil dibandingkan minyak yang sering bergejolak akibat isu geopolitik.

3. Hasil Dividen Menarik: Emiten seperti ADRO dan PTBA menawarkan imbal hasil dividen di atas 10%, yang menjadi penopang kuat saat harga saham terkoreksi.

Akibatnya, saham batubara hanya mengalami penurunan tipis dan tidak sebesar yang dialami oleh emiten migas murni.

Dampak ke Saham Distribusi: AKRA

Atlas Resources (AKRA) bergerak di bidang pendistribusian BBM untuk kebutuhan industri dan bahan kimia. Penurunan harga minyak membawa dua dampak berlawanan:

1. Dampak Negatif Jangka Pendek: Perusahaan memiliki persediaan stok BBM dalam jumlah besar. Ketika harga jual pasar turun, nilai persediaan tersebut ikut menyusut yang berdampak pada kerugian sementara.

2. Dampak Positif Jangka Panjang: Harga jual yang lebih murah membuat permintaan BBM dari sektor industri meningkat. Volume penjualan yang naik serta pelebaran margin distribusi justru dapat menguntungkan kinerja di masa mendatang.

Menurut analis pasar, saham ini cenderung bergerak merah dalam jangka pendek, namun prospeknya tetap netral hingga positif untuk jangka panjang.

Strategi: Beli Tepat Waktu atau Tahan Dulu?

Halaman:123Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda