Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Mitigasi Gempa Bumi Untuk Warga Indonesia

Mitigasi Gempa Bumi Untuk Warga Indonesia
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,5 yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 dan menewaskan 32 orang akibat reruntuhan bangunan menjadi alarm keras bagi…. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,5 yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 dan menewaskan 32 orang akibat reruntuhan bangunan menjadi alarm keras bagi masyarakat Indonesia. Berada di kawasan Cincin Api Pasifik dengan potensi gempa bumi yang sangat tinggi, Indonesia dituntut memiliki kesiapsiagaan mutlak melalui langkah mitigasi yang terencana.

Dampak buruk dari bencana ini sebenarnya bisa ditekan jika publik memahami rantai penyelamatan diri sejak dini. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berulang kali menegaskan bahwa gempa bumi tidak membunuh, melainkan robohnya bangunan yang menjadi penyebab utama korban jiwa. Oleh karena itu, langkah panduan mitigasi gempa bumi secara struktural dan non-struktural harus segera diterapkan di setiap rumah tangga tanpa menunggu bencana datang melanda.

Mitigasi Struktural: Membangun Rumah Tahan Gempa SNI

Langkah pertama dan paling krusial dalam mitigasi adalah memastikan struktur hunian Anda kokoh. Belajar dari robohnya puluhan gedung di Caracas, Venezuela, konstruksi yang buruk menjadi mesin pembunuh senyap saat tanah bergoyang keras.

Masyarakat wajib menerapkan standar SNI 1726-2019 untuk perencanaan ketahanan gempa struktur bangunan rumah. Gunakan kombinasi pondasi cakar ayam, sloof, dan kolom beton bertulang yang saling mengikat kuat. Hindari penggunaan dinding bata merah tanpa balok pengikat kolom, dan beralihlah ke material yang lebih ringan seperti bata ringan. Untuk bagian atap, hindari penggunaan genteng tanah liat yang berat dan ganti dengan material spandek atau baja ringan guna meminimalkan risiko ambruk.

Lakukan pemeriksaan berkala minimal setiap enam bulan sekali pada struktur rumah Anda. Perhatikan jika ada retakan rambut pada tiang penyangga atau dinding utama. Retakan tersebut bisa menjadi indikasi awal melemahnya struktur bangunan saat menerima beban getaran di masa depan.

Mitigasi Non-Struktural: Menyiapkan Tas Siaga Bencana

Saat gempa besar terjadi, kepanikan sering kali membuat orang lupa menyelamatkan barang-barang penting. Di sinilah pentingnya menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) yang diletakkan di area yang mudah dijangkau, seperti di dekat pintu keluar utama rumah.

Tas anti-air ini harus berisi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup minimal selama tiga hari mandiri:

Kategori Logistik Jenis Barang Wajib
Kebutuhan Fisik Air minum kemasan, makanan kaleng/siap saji, obat-obatan pribadi, dan kotak P3K.
Alat Penyelamatan Senter, baterai cadangan, peluit (untuk memberi sinyal jika tertimbun), dan radio saku.
Dokumen & Keuangan Salinan surat tanah, ijazah, KTP yang dibungkus plastik klip, serta uang tunai secukupnya.
Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda