NUEVA AUSTRALIA — Pertandingan hidup mati Grup D Piala Dunia 2026 antara Paraguay vs Australia pada Jumat nanti menghadirkan gejolak batin yang unik bagi warga sebuah kota kecil di pedalaman Paraguay. Melansir laporan ABC News, kota pertanian bernama Nueva Australia yang terletak 130 kilometer dari ibu kota Asuncion ini sedang dilanda ketegangan budaya karena sejarah masa lalu mereka yang sangat erat dengan Negeri Kanguru. Pertemuan kedua tim nasional di panggung sebesar Piala Dunia memicu kembali memori kolektif tentang asal-usul romantis sekaligus getir dari kota yang kini dihuni oleh generasi kelima imigran Australia tersebut.
Meskipun bendera Australia tampak berkibar di beberapa sudut kota, sekitar 4.500 warga Nueva Australia tetap menegaskan loyalitas mereka. Bendera merah, putih, dan biru milik Paraguay akan tetap menjadi pilihan utama saat laga penentuan tersebut berlangsung di San Francisco, Amerika Serikat. Loyalitas ganda ini menjadi bumbu penyedap yang membuat tensi pertandingan terasa jauh lebih personal bagi komunitas di tengah kepungan perkebunan tebu tersebut.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Jejak Sejarah Utopia Sosialis di Hutan Paraguay
Nama Nueva Australia (Australia Baru) bukan sekadar nama tanpa arti. Pada tahun 1893, sekelompok buruh dan peternak domba asal Australia berlayar setengah melingkari bumi dipimpin oleh William Lane, seorang sosialis radikal. Mereka melarikan diri dari kegagalan pemogokan besar peternak domba tahun 1891 di Australia untuk membangun koloni utopia sosialis di atas tanah gratis seluas 75.000 hektare yang diberikan pemerintah Paraguay. Pemerintah setempat kala itu memang membutuhkan imigran baru setelah kehilangan sebagian besar populasi laki-lakinya akibat Perang Triple Alliance.
Meski impian utopia itu runtuh dalam hitungan bulan akibat aturan ketat Lane—termasuk larangan alkohol dan larangan menikah dengan warga lokal—keturunan mereka tetap bertahan. Eksperimen sosial ini gagal, namun akar genetik dan budaya yang ditinggalkan terpatri sangat kuat. Hingga hari ini, marga seperti Smith, Kennedy, Adams, dan Murray masih banyak disandang oleh warga lokal yang sebagian berambut pirang dan bermata terang, meski mereka kini berbicara dalam bahasa Spanyol dan Guarani dengan fasih.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.