JAKARTA — Turnamen akbar Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan drama kelolosan tim di atas lapangan hijau, tetapi juga memicu perdebatan panas mengenai teknologi si kulit bulat. Bola resmi turnamen kali ini, Adidas Trionda, mulai memanen kritik tajam dari para penjaga gawang top dunia karena karakternya yang dinilai aneh dan sangat sulit untuk dikendalikan.
Situasi ini mengingatkan publik pada memori buruk Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Kala itu, bola Adidas Jabulani menjadi musuh bersama para penjaga gawang karena arah terbangnya yang liar dan tidak dapat diprediksi. Kini, pola serupa tampaknya kembali terulang di tanah Amerika Utara.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Desain Minim Hambatan yang Menyiksa Kiper
Mantan penjaga gawang legendaris Denmark, Kasper Schmeichel, membeberkan analisis taktisnya mengenai keanehan Adidas Trionda. Pria yang telah mengantisipasi karakter bola ini dengan memakainya sejak babak kualifikasi menyebut ada perbedaan struktural yang sangat mencolok dibandingkan bola-bola generasi sebelumnya.
“Yang istimewa dari bola ini adalah konstruksinya yang hanya terdiri dari empat panel,” papar Schmeichel dalam interviu bersama podcast BBC Football Daily. “Tidak ada jahitan sama sekali di permukaannya karena semua bagian direkatkan secara total.”
Schmeichel menambahkan bahwa kombinasi desain mulus tersebut dengan variasi cuaca serta kerapatan udara di stadion membuat hambatan udara pada bola berkurang drastis. Efeknya, bola tidak berputar secara konvensional melainkan meluncur sepersekian detik lebih cepat ke arah gawang.
“Kita melihat banyak gol di mana kiper sebenarnya hampir berhasil menepis bola tapi tetap kebobolan. Mulai dari Jordan Pickford saat Inggris menghadapi Kroasia, Luca Zidane bersama Aljazair, hingga Edouard Mendy. Tampaknya bola ini memang sengaja dirancang untuk mempermudah terjadinya gol,” tambah Schmeichel.
Statistik Sahih yang Membenarkan Keluhan
Keluhan para aktor di bawah mistar gawang ini bukan sekadar alasan pembenaran atas blunder mereka. Data statistik dari Opta menunjukkan adanya lonjakan drastis dalam jumlah gol jarak jauh dan kesalahan kiper sepanjang fase grup Piala Dunia 2026.
Hingga selesainya babak penyisihan grup, tercatat ada 20 gol yang tercipta dari luar kotak penalti. Angka ini melonjak dua kali lipat dibandingkan total gol jarak jauh pada fase yang sama di Piala Dunia 2022 Qatar.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.