Selasa, 7 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Keamanan siber global dalam menghadapi “bom” komputasi kuantum.

Keamanan siber global menghadapi ancaman komputasi kuantum
Keamanan siber global terancam bom kuantum. (Ilustrasi: AI)

Model ancaman seperti ini berbahaya karena tidak meninggalkan alarm yang mudah dibaca. Tidak ada gedoran di pintu server. Tidak ada layar yang langsung padam. Yang terjadi lebih diam, tapi efeknya bisa jauh lebih rusak.

Kriptografi pasca-kuantum jadi garis pertahanan baru

Di titik inilah kriptografi pasca-kuantum masuk sebagai jawaban. Ini adalah kelompok algoritma baru yang dirancang agar tetap aman meski komputer kuantum sudah sangat kuat. Dasarnya tidak lagi bertumpu pada bentuk perlindungan lama yang mudah dipatahkan mesin kuantum, melainkan pada persoalan matematika yang jauh lebih rumit dan multidimensi.

Kepala Bagian Informasi Pentagon, Kirsten Davies, menekankan bahwa dari sistem peluncuran senjata nuklir hingga jaringan logistik konvensional, semuanya akan lumpuh tanpa transisi ke kriptografi pasca-kuantum. Pesannya tegas: pindah sekarang, atau menanggung biaya yang jauh lebih mahal nanti.

Laporan itu juga menyebut pemerintah Amerika Serikat sampai perlu mengeluarkan dua perintah eksekutif darurat untuk mempercepat pendanaan proyek sensor dan algoritma pertahanan baru sebelum 2028. Nama SandboxAQ ikut disebut sebagai salah satu pihak yang mendorong percepatan riset di bidang ini.

Artinya, persaingan sudah masuk babak operasional. Bukan wacana konferensi. Bukan lagi diskusi panel. Negara-negara besar sudah menyiapkan instrumen hukum, anggaran, dan riset sekaligus.

Apa dampaknya bagi bisnis dan negara seperti Indonesia

Untuk perusahaan, pesan paling praktisnya begini: data lama yang dianggap tidak sensitif hari ini bisa jadi sangat berharga di masa depan. Kontrak, data pelanggan, rekam kesehatan, dokumen hukum, hingga informasi riset bisa menjadi target penyimpanan jangka panjang bagi pelaku kejahatan siber.

Bagi lembaga negara, risikonya lebih luas. Infrastruktur publik, administrasi kependudukan, sistem perpajakan, jaringan energi, sampai layanan perbankan digital memerlukan pembaruan strategi keamanan yang tidak lagi mengandalkan algoritma lama semata.

Di negara yang sedang mempercepat digitalisasi, termasuk Indonesia, waktu jadi persoalan utama. Semakin banyak layanan pindah ke ranah digital, semakin besar pula permukaan serangan. Kalau pembaruan kriptografi ditunda, biaya migrasinya nanti bisa jauh lebih berat daripada memulainya sekarang.

Halaman:123Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda