Untuk Nola Dya Sari, Ketut menyebut peserta itu mengikuti pembelajaran sosiologi dan teknik perkebunan tanpa keluhan pada siang hari. Sekitar pukul 18.45 WIB, ia mengeluh sesak napas dan tubuh panas. Setelah ditangani di satuan pendidikan, Nola dibawa ke IGD Rumah Sakit Singkawang, lalu dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang. Di rumah sakit, kondisinya memburuk hingga henti jantung. Upaya resusitasi dan kardioversi tetap tidak menyelamatkan nyawanya. Ia dinyatakan meninggal pada pukul 21.03 WIB.
Penanganan medis, santunan, dan tanggung jawab penyelenggara
Kemenhan menegaskan para peserta telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan sebelum mengikuti pelatihan. Penjelasan ini penting karena publik wajar bertanya: bagaimana seseorang yang lolos pemeriksaan awal tetap bisa jatuh sakit sampai meninggal? Ketut menjawab, masing-masing peserta punya karakteristik dan kondisi medis berbeda, sehingga penanganan di lapangan juga disesuaikan dengan kondisi mereka.
Pernyataan itu belum menjawab semua pertanyaan, tapi memberi gambaran bahwa pihak penyelenggara tidak menutup mata atas kejadian yang terjadi. Kemenhan menyebut penanganan tak berhenti pada evakuasi medis. Pendampingan keluarga dilakukan sejak proses kejadian, pengiriman jenazah ke daerah asal, sampai pemakaman. Komunikasi dengan keluarga korban juga disebut tetap berjalan setelah seluruh proses pemakaman selesai.
Soal santunan, Kemenhan menyerahkan Rp 50 juta kepada masing-masing keluarga korban. Menurut Ketut, bantuan itu adalah bentuk tanggung jawab penyelenggara sekaligus representasi negara. Besaran santunan ini memang tidak bisa menggantikan kehilangan, tapi menunjukkan bahwa negara hadir dalam urusan yang paling dasar: pemulihan keluarga yang ditinggalkan.
Kasus Anisa Muyassaroh memperlihatkan bahaya gangguan panas pada latihan fisik. Ia disebut mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan meninggal karena heat stroke disertai henti jantung. Di Balikpapan, dokter sempat melakukan pemeriksaan lanjutan, tetapi EKG menunjukkan flat asystole. Pada pukul 19.00 WITA, ia dinyatakan meninggal dunia.
Yonanda Muhammad Taufiq juga sempat dirujuk setelah kondisi kesehatannya turun pada 17 Juni 2026 pukul 17.17 WIB. Setibanya di Rumah Sakit dr. Noesmir Baturaja, ia langsung mendapat penanganan medis. Namun dokter menyatakan ia meninggal pada 18.33 WIB dengan diagnosis cardiac arrest atau henti jantung.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.